Jitunews.Com
22 Maret 2019 21:52 WIB

Ini Strategi Jitu KKP Antisipasi Masuknya Penyakit Udang AHPND ke Indonesia

Slamet menegaskan, hingga saat ini Indonesia masih bebas dari penyakit AHPND.

Direktur Jenderal Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP, Slamet Soebjakto, saat Konferensi Pers di Gedung Mina Bahari IV, KKP, Jakarta, Jumat (22/3). (Jitunews/Riana)

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, menegaskan, hingga saat ini Indonesia masih bebas dari penyakit yang menyerang udang, yaitu acute hepatopancreatic necrosis disease atau AHPND.

Ia pun menuturkan, pihaknya kini tengah merencanakan strategi dalam menghadapi salah satu virus yang mematikan yang mengincar ‘si bongkok’ itu.

Asal tahu saja, AHPND merupakan penyakit udang yang ditimbulkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus yang menjadi penghasil toksin mematikan. Umumnya, virus tersebut menyerang udang windu dan vaname. AHPND menyerang udang yang masih berusia kurang dari 40 hari setelah ditebar di tambak.



Revolusi Industri 4.0, KKP Dorong Sentra Budidaya Lele Berbasis Digital

“Sebagaimana kita ketahui, virus AHPND ini dapat menurunkan produksi udang yang cukup besar dan merugikan petambak. Dan kini, virus tersebut saat ini telah menjangkit di beberapa negara. Kita harapkan virus itu tidak masuk di Indonesia karena mematikan. Di Malaysia, virus itu sudah ada. Ini harus dicegah supaya tidak tertular,” beber Slamet, saat Konferensi Pers di Gedung Mina Bahari IV, KKP, Jakarta, Jumat (22/3).

Sebagai informasi, AHPND pertama kali teridentifikasi di China pada tahun 2009 dengan sebutan Covert Mortality Disease dan dilaporkan tahun 2010 telah menyerang Vietnam disusul Malaysia (2011), Thailand (2012), Mexico (2013), Bangladesh (2014) dan Philipina (2015).

Secara umum gejala klinis yang terlihat pada udang yang terinfeksi oleh AHPND di tambak antara lain, (1) Terjadi kematian secara mendadak di dasar petak tambak pada umur <40 hari pasca tebar, (2) Seringkali wama seluruh badan udang pucat dan saluran pencemaan kosong; (3) Hepatopankreas terlihat mengecil dan pucat jika dibedah. Sedangkan di hatchery gejala klinis terhadap serangan AHPND masih sulit untuk dikenali, namun demikian dapat dilihat dan adanya gerakan larva dan postlarva (PL) yang terlihat lemah, hepatopankreas pucat, dan terjadi kematian secara mendadak mulai stadia PL 1 sampai dengan sebelum PL didistribusikan mencapai >30%.

KKP sendiri telah menggandeng stakeholders terkait seperti Shrimp Club Indonesia, GPMT, pembenih, dan Asosiasi Saprotam untuk menyiapkan upaya-upaya pencegahan.

Slamet mengatakan, setidaknya ada 7 upaya pencegahan yang dilakukan KKP, yakni pertama, melakukan surveilan AHPND ke sentra-sentra budidaya udang.

KKP Bangkitkan Kembali Budidaya Ikan Pasca-Tsunami di Pandeglang

Halaman:
  • Penulis: Riana

Baca Juga

 

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita