Jitunews.Com
14 Desember 2018 09:29 WIB

Blak-blakan Dirjen Daglu Soal Kinerja Neraca Perdagangan Indonesia

Defisit neraca perdagangan dipengaruhi oleh impor barang baku modal sebesar 16 persen dan impor barang baku penolong 76 persen.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Oke Nurwan, DIPL. ING. (Jitunews/Khairul Anwar)

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Sepanjang tahun 2018 ini, neraca perdagangan Indonesia memang tercatat defisit. Dari catatan Kemendag, selama tahun 2018 ini hanya bulan Maret, Juni, dan September 2018 yang memiliki catatan surplus. Dari data BPS, pada Maret surplus 1,12 miliar dolar, Juni surplus 1,74 miliar dolar, dan September 2018 surplus 227 juta dolar.

Meski begitu, defisit neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh impor barang baku modal sebesar 16 persen dan impor barang baku penolong 76 persen, sedangkan impor barang konsumsi hanya sebesar 8.5 persen. Hal itu tentu sangat baik untuk perekonomian Indonesia dalam jangka panjang ke depan.

Tim Jitunews.com mencoba mengorek lebih dalam mengenai kinerja ekspor-impor tahun 2018 dan segala persoalannya. Selain itu kami juga memperbincangkan soal jor-joran proyek infrastruktur pemerintah dan dampaknya, serta optimisme kinerja perekonomian Indonesia ke depan dengan dasar data ekspor-impor selama tahun 2018.



Kemendag Gelar Forum Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Tujuannya…

Untuk itu, tim Jitunews.com menemui Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Oke Nurwan di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Kamis (12/12). Tim Jitunews.com pun disambut hangat di tengah jadwal Oke Nurwan yang sangat padat.

Berikut petikan wawancara Jitunews.com bersama Oke Nurwan:

Jitunews: Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami. Untuk pertanyaan awal, bisa dijelaskan Pak, bagaimana kinerja ekspor-impor Indonesia selama tahun 2018?

Oke Nurwan: Secara umum kalau dilihat dari tahun ke tahun, kinerja perdagangannya menurun dari tahun 2017. Jika dilihat sepanjang tahun 2018 saja, kinerja peradangan RI diposisi defisit.

Adapun, penyumbang defisit terbesar adalah impor dari sektor migas. Sektor nonmigas masih cenderung surplus selama beberapa bulan terakhir. Pada bulan Oktober, sektor nonmigas menyumbang defisit juga selain dari sektor migas.

Jitunews: Lantas, ekspor di sektor nonmigas sendiri didominasi komoditas apa?

Oke Nurwan: Jadi dibagi dua. Ekspor RI selalu didominasi komoditi primer dan komoditi manufaktur. Komoditi primer itu mudahnya adalah komoditas yang digali terus kita ekspor. Komoditi manufaktur itu diproses dulu kemudian ada nilai tambah baru diekspor. Jadi, andalannya biasanya tambang, mineral, produk minyak nabati seperti sawit. Itu komoditi-komoditi primer. Nah, ekspor komoditi manufaktur masih di bawah komoditi primer.

Jitunews: Bisa dijelaskan Pak, penyebab neraca perdagangan kita defisit?

OkeNurwan: Jadi dibagi 3. Barang konsumsi, barang baku penolong, dan barang baku modal. Komposisinya, barang konsumsi 8.5%, barang baku penolong 76%, barang baku modal 16%. Bahan baku modal memang dibutuhkan. Bahan baku penolong dibutuhkan untuk menggerakkan industri dalam negeri ataupun ekspor. Barang modal yang diimpor contohnya eksavator dan buldozer. Untuk membantu pembangunan infrastruktur.

Jitunews.com: Bagaimana kinerja ekspor-impor migas Indonesia?

Oke Nurwan: Tren kinerja ekspor migas Indonesia selama periode 2013-2017 turun rata-rata sebesar 20,44%, sedangkan tren impor migas selama periode yang sama juga turun sebesar 18,81%. Untuk periode Januari-Oktober 2018, ekspor migas Indonesia tercatat mencapai 14,23 juta dolar, turun dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Sementara itu, kinerja impor migas periode Januari-Oktober 2018, tercatat sebesar 24,96 juta dolar, turun sebesar 27,72% dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Dengan fakta tersebut, neraca perdagangan migas Indonesia selama periode Januari-Oktober 2018 mencatat minus sebesar 10,73 juta dolar.

Jitunews.com: Saat ini, struktur pasar dunia itu didominasi oleh ekspor produk apa?

Oke Nurwan: Selama 5 dekade, ekspor Indonesia didominasi produk-produk primer bukan dari promer ke manufaktur. Struktur permintaan impor dunia 81% produk manufaktur dan 19% produk primer. Dengan demikian, Indonesia baru memanfaatkan peluang pasar yang 19%.

Jitunews: Saat kurs RI melemah, pernah ada kebijakan untuk menunda sementara pembangunan infrastruktur, apakah berpengaruh ke neraca perdagangan?

Oke Nurwan: Begitu ada kebijakan atau imbauan seperti itu, tidak langsung berpengaruh. Karena roda industri dan infrastruktur harus tetap berjalan. Itu biasanya ke arah jangka panjang. Jadi, apa yang dimaksud menunda pembangunan infrastruktur tentunya yang harus ditunda kondisinya bukan hanya karena hanya kurs rupiah saja yang melemah tapi juga cadangan devisa pun menurun. Sehingga kita harus mengendalikan dan mengelola devisa.

Salah satu alternatifnya adalah menunda infrastruktur pembangunan. Yang mananya adalah pembangun infrastruktur-infrastruktur yang didalamnya mengandung kadar impor tinggi. Dan mendorong penggunaan/meninggikan penggunaan dalam negeri. Seperti kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian dengan mendorong TKDN. Kementerian PUPR tidak menggunakan baja impor.

Jitunews: Pemerintahan Jokowi mendorong pembangunan infrastruktur. Sehingga mendorong impor barang baku dan modal menjadi tinggi. Tanggapan Bapak?

Oke Nurwan: Ini buah simalakama, bagai telur dan ayam. Karena saya berpandangan sungguh tepat yang dilakukan pemerintahan sekarang dengan menggenjot pembangunan infrastruktur. Kenapa? Ini menjadi pondasi untuk roda perekonomian negara kedepannya. Tidak hanya untuk roda perekonomian, juga akan menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di dalam negeri

Kinerja ekonomi atau perdagangan kita banyak PR-nya. Yang seharusnya dibangun sejak lama ada di dalam negeri. Posisi produk-produk kita tidak kompetitif. Bukan produknya tidak kompetitif, tapi biaya produksinya yang tinggi dan itu adanya di dalam. Kalau secara internasionalnya, komposisi internasionalnya sudah berlaku harga internasional. Biaya logistik internasional, harga pelayaran internasional, kan gak bisa itu (diubah).

Tetapi ternyata, di dalam negeri banyak PR-nya yang membuat produk kita kompetitif berkurang. Contoh tadi, kenapa infrastruktur harus dibangun? Karena kalau jalan dari Merak ke Jakarta aja macet sampai 14 km, dampaknya gede ke biaya produksi. Sehingga sekarang infrastruktur jalan dan lain-lainnya itu dibangun, secara tidak langsung arah pemerintah itu untuk mendorong produk kita jadi lebih kompetitif yang PR-nya di dalam negeri tadi. Sehingga ini adalah pondasi bagi kita.

Saya kurang setuju kalau kita landai-landai saja kayak kemarin. Artinya ya, kita harus berkorban untuk menyiapkan meningkatkan daya saing produk kita lebih tinggi lagi. Produk-produk manufaktur perlu didukung untuk meningkatkan daya saing-nya. Karena perjalan antara bahan baku dengan lokasi pabrik dan sebagainya menjadi salah satu komponen yang cukup signifikan terhadap harga baku.

Saya perlu sampaikan sedikit, bahasa dari mantan dubes WTO, bahwa komponen logistik itu terhadap harga produk secara internasional rata-rata 30%. Sehingga kenapa konsep tren fasilitasi perdagangan harus segara dibenahi. Termasuk pelabuhan dan cukai harus direndahkan. Supaya harga yang ada ditingkat konsumen tidak terlalu jauh kenaikannya. Saya kira, cenderung sudah tepat kebijakan ini. Untuk mengejar ketertinggalan kita. Untuk menyiapkan kita menyongsong perekonomian kedepan dan produk kita lebih kompetitif.

Di Tahun 2019, Ekonomi Indonesia Akan Tumbuh dan Anggaran Pendidikan serta Kesehatan Mencapai...

Halaman:
  • Penulis: Vicky Anggriawan,Riana

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita