Jitunews.Com
12 Februari 2024 14:51 WIB

Soal Film Dirty Vote, Anies: Jangan Melawan Kemauan Rakyat dalam Pemilu!

Anies mengatakan bahwa dugaan kecurangan hanya akan membuat proses pemilu menjadi cacat

Anies Baswedan saat berkampanye di Banda Aceh (X/@aniesbaswedan)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Calon presiden (capres) nomor urut satu, Anies Baswedan turut menanggapi film dokumenter karya rumah produksi WatchDoc yang menampilkan kecurangan-kecurangan selama Pemilu 2024.

Anies berpesan agar berhati-hati dengan keinginan rakyat di Pemilu 2024 yang menginginkan adanya transparansi dan kejujuran. Ia menyebut ada cara yang tidak terduga yang dilakukan rakyat dalam merespon dugaan kecurangan Pemilu 2024.

"Hati-hati dengan rakyat yang dimanipulasi sementara mereka menginginkan adanya transparansi, adanya kejujuran. Hati-hati dengan rakyat. Karena rakyat akan merespons seluruh tidak kecurangan itu dengan cara yang kita tidak tahu," kata Anies di kediaman Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (12/2/2024).



Soal Film Dirty Vote, Zulhas: Zaman Gini Masih Bisa Curang Tuh Gimana?

Anies mengatakan bahwa dugaan kecurangan hanya akan membuat proses pemilu menjadi cacat. Rakyat, kata Anies, akan marah dengan adanya praktik kecurangan pemilu selayaknya pertandingan sepakbola yang sudah diatur skornya.

"Jangan dikerjakan karena ini merusak semua, seperti pertandingan sepak bola yang kemudian segalanya serba diatur sampai skornya diatur. Marah penonton, penonton marah," ujar Anies.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar praktik kecurangan pemilu dihentikan. Ia tidak ingin kemauan rakyat terkait pemilu yang trasnparan dan jujur dimanipulasi oleh sejumlah pihak.

"Jadi betul-betul harus hati-hati, jangan pernah melawan yang disebut sebagai kemauan rakyat dalam sebuah pemilu, itu jangan dimanipulasi," ujarnya.

Diketahui, film dokumenter Dirty Vote tengah menjadi trending topik di media sosial. Film yang diproduksi oleh WatchDoc itu merupakan film dokumenter yang berisi kecurangan-kecurangan selama Pemilu 2024.

Film tersebut dibintangi oleh tiga orang pakar hukum dan tata negara yakni Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar.

"Ketiganya menerangkan betapa berbagai instrumen kekuasaan telah digunakan untuk tujuan memenangkan pemilu sekalipun prosesnya menabrak hingga merusak tatanan demokrasi," dikutip dari siaran persnya yang dilansir CNNIndonesia.com, Senin (12/2/2024).

Ogah Komentari Film Dirty Vote, Airlangga: Itu Kan Black Campaign
Halaman:
  • Penulis: Trisna Susilowati

Rekomendasi

 

Berita Terkait