Jitunews.Com
6 Juli 2015 11:21 WIB

Tenggaring, Si Kembaran Rambutan yang Kian Langka

Ia dapat tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 200-350 m dpl serta curah hujan 3.000 mm/tahun

Buah tenggaring. (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM– Buah satu ini selintas mirip rambutan, hanya saja ia memiliki rambut yang keras dan pendek, dialah tenggaring. Selain tenggaring, masyarakat pun mengenalnya dengan nama kapulasan atau sering disebut sebagai rambutan kafri dan rambutan paroh. 

Tenggaring termasuk ke dalam kelompok rambutan hutan dan tumbuh secara alami dan menyebar di kawasan Kalimantan Tengah. Makanya, tumbuhan ini terpilih menjadi identitas Provinsi Kalimantan Tengah.

Pohon tenggaring hampir sama dengan pohon rambutan karena masih dalam 1 marga. Tinggi pohon dapat mencapai 20 meter. Bentuk dan percabangan daun sama dengan daun rambutan, hanya helaian daun tenggaring lebih kecil. Perbungaan tersusun malai terdapat di setiap ujung ranting. Bentuk buah seperti buah rambutan yaitu bundar telur serta daging buahnya manis yang bercampur sedikit asam. Tetapi untuk masyarakat di Kalimantan Tengah, buah tenggaring ini cukup manis dan enak.



Bali Bakal Menggelar Festival Manggis, Catat Tanggal Mainnya Ya!

Buah Langka. Perlu diketahui juga, hingga saat ini tenggaring sudah termasuk ke dalam buah langka. Kelangkaan ini disebabkan karena tenggaring tumbuh liar di hutan-hutan, pertumbuhan pohonnya lambat, pemanfaatan buahnya sebagai buah meja pengganti rambutan kurang mendapat perhatian sehingga masyarakat kurang berminat untuk memBudidayakannya. 

Keadaan inilah yang menekan populasinya sehingga tenggaring dikatagorikan sebagai buah langka. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, buah ini punya banyak manfaat lho! Ya, masyarakat setempat memakai kayu tenggaring untuk peralatan rumah tangga. Selain itu, bijinya pun mengandung minyak nabati lebih banyak dari pada biji rambutan. Minyak ini umumnya digunakan dalam proses pembuatan lilin dan sabun. 

Agroekologi. Menyoal agroekologi, tenggaring dapat tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 200-350 m dpl, serta mempunyai curah hujan 3.000 mm per tahun. Jika Anda tertarik memperbanyak tanaman ini, perbanyakan bibitnya dapat dilakukan dengan cara mencangkok, sambungan (okulasi) dan biji. Penanaman dengan biji memerlukan waktu yang lama/pertumbuhannya lambat yaitu antara 8-10 tahun tenggaring ini baru mulai berbunga dan berbuah. Musim berbunga pada bulan Juni sampai Agustus serta musim berbuah pada bulan Oktober sampai Desember.

(berbagai sumber)

Ini Penyebab Sayuran Organik Berbentuk ‘Tak Sempurna’
Halaman:
  • Penulis: Riana

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita