Jitunews.Com
8 Desember 2022 17:01 WIB

Anies Dilaporkan ke Bawaslu, Relawan: KPU Belum Nyatakan Anies sebagai Peserta Pemilu

Fenomena ini lebih buruk dari suasana sebelum pemilihan presiden 2019

Go-Anies (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Ketua Umum Kordinator Nasional Relawan Go-Anies Sirajuddin Abdul Wahab menanggapi berbagai aksi penjegalan Anies Baswedan yang mulai marak dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan melejitnya elektibilitas Anies.

"Fenomena ini lebih buruk dari suasana sebelum pemilihan presiden 2019.  Pilpres 2019 tidak ada bakal calon yang dijegal dan ditakuti seperti Anies. Namun perpecahan terjadi kian nyata," ujarnya di Jakarta, Kamis (8/12/2022).

"Menghadapi Pilpres 2024, hanya Anies calon yang ditakuti, tapi siapa yang jadi lawan belum jelas, ini semua seperti operasi senyap menjegal Anies dipilpres 2024," imbuhnya.



Viral Anies Baswedan Gunakan Jet Pribadi, NasDem: Bukan Sok-sokan Apalagi Gagah-gagahan

Dia mengatakan penjegalan terhadap safari Anies keliling daerah dalam rangka bertemu dengan masyarakat adalah upaya politik yang tidak fair dan tidak mencerminkan keadaban politik Indonesia.

"Saling menghadang antar anak bangsa, saling mencekal bukanlah bagian dari kultur budaya masyarakat Indonesia, ini adalah agenda politik segelintir orang yang mulai ketakutan akibat semakin kuatnya posisi Anies dalam pilpres 2024,," tuturnya.

Dalam hal ini, Sirajuddin menyebut upaya politik untuk menjegal Anies sudah mulai marak terjadi, bahkan sudah mulai ada yang melaporkan Anies di Bawaslu RI.

Sirajuddin mempertanyakan apa dasarnya sampai Anies disebut melanggar pemilu, padahal Anies belum dinyatakan oleh KPU sebagai Peserta Pemilu.

Menurutnya proses pemilu belum saat ini baru berada dalam tahap verifikasi peserta pemilu (verifikasi Partai Politik), dan tidak ada satupun calon presiden yang diumumkan oleh KPU.

"Ini juga menjadi pertanyaan, kenapa Bawaslu mau menerima laporan tersebut padahal objek laporannya tidak ada," kata dia.

Sirajuddin menegaskan bahwa perjalanan Anies keliling Daerah itu bukan dalam rangka sebagai Calon Presiden, tetapi sebagai masyarakat biasa yang kebetulan adalah bakal calon presiden.

"Catat, bakal calon presiden, bukan calon presiden. Adapun penyambutan masyarakat dan relawan diberbagai daerah itu adalah merupakan penghormatan, rasa kecintaan pada Anies, serta adanya keinginan besar pada arus perubahan di pemilu presiden 2024 mendatang, selain dari itu budaya ketimuran bangsa indonesia sangat menghormati tamu yang datang berkunjung kedaerahnya," kata dia.

Menurutnya kalau safari Anies dianggap  melanggar aturan Kampanye, hal ini dinilai sangat mengherankan.

"Sejauh ini, menurut kami, tidak ada larangan apapun yang dikeluarkan KPU maupun Bawaslu mengenai siapapun yang disebut bakal calon untuk keliling daerah, bertemu dengan relawan dan simpatisan dalam kapasitasnya sebagai bakal calon. Tetapi kenapa hanya Anies yang dihadang dan diganggu? Apakah karena hanya Anies yang disambut masyarakat," tuturnya.

Sirajuddin menuturkan bahwa hal inilah yang menjadi pertanyaan dibenak Go-Anies.

Oleh karena itu, Sirajuddin berharap, semua pihak menjunjung semangat persatuan dan sportifitas dalam menyambut pemilu 2024.

"Kalau ingin bersaing dengan cara-cara yang tidak benar, yang provokatif, Anies tidak akan mau melakukan itu, dan kami juga tidak akan melakukan hal-hal yang kurang terpuji seperti itu," kata Sirajuddin.

"Mari kita adu gagasan, narasi, karya-karya yang dapat dinilai oleh masyarakat, jangan adu sentiment, karena itu bisa memecah belah, sebagaimana yang terjadi dalam pilpres 2019. Kita tidak mau mengulangi kesalahan yang sama," tukasnya.

Dinilai Curi 'Start' Kampanye, Anies Baswedan Dilaporkan ke Bawaslu
Halaman:
  • Penulis: Khairul Anwar

Rekomendasi

 

Berita Terkait