Jitunews.Com
28 November 2022 21:04 WIB

Ada Sejumlah Negara yang Diam-diam Kirim Pasokan Senjata ke Ukraina

Menteri Luar Negeri Ukraina mengatakan bahwa Ukraina sudah menerima pasokan senjata dari beberapa negara, yang selama ini membantah melakukannya

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba (istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba pada Jumat pekan lalu mengatakan bahwa negara-negara tertentu sudah mengirim bantuan militer kepada Ukraina meski secara terbuka membantah melakukannya. Ia menambahkan bahwa senjata-senjata tersebut sengaja mereka kirim ke Kiev melalui pihak ketiga.

“Sebagian besar negara ketiga ini secara terbuka mengatakan bahwa mereka tidak memasok apa pun, tetapi semuanya terjadi di belakang layar,” kata Kuleba dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Perancis Le Parisien.

Hanya saja, ia tidak menyebut negara mana yang konon secara diam-diam mendukung Kiev untuk bertahan menghadapi serangan Rusia.



Kim Jong Un Ingin Korea Utara Jadi Negara dengan Kemampuan Nuklir Terkuat di Dunia

Komentar Kuleba muncul di tengah meningkatnya laporan bahwa para pendukung Ukraina, termasuk sejumlah negara NATO, mulai kehabisan pasokan senjata setelah mengirim bantuan militer kepada Ukraina.

Menurut artikel baru-baru ini oleh New York Times, misalnya, hanya sekutu NATO yang “lebih besar”, seperti Prancis, Jerman, Italia, dan Belanda, yang masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan atau bahkan berpotensi meningkatkan pengiriman senjata ke Ukraina.

“Negara-negara yang lebih kecil telah kehabisan potensi mereka,” kata seorang pejabat NATO kepada surat kabar itu, menambahkan bahwa setidaknya 20 dari 30 anggota blok itu “telah disadap habis-habisan”.

Sejak awal konflik di Ukraina pada akhir Februari, AS dan sekutu Baratnya telah menghujani Kiev dengan bantuan militer miliaran dolar. Moskow telah berulang kali memperingatkan Barat agar tidak "memompa" Ukraina dengan persenjataan, menyatakan bahwa itu hanya akan memperpanjang konflik dan juga akan meningkatkan risiko terjadinya pertempuran langsung antara militer Rusia dan blok militer pimpinan AS itu.

Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, mengutip kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang untuk memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina. Protokol, yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada tahun 2014.

Beberapa hari sebelum operasi militer dimulai, Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan wilayah Lugansk dan Donetsk. Putin juga mendesak Ukraina tetap menjadi negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan NATO.

 

Sia-sia, Pemimpin Iran Sebut Negosiasi dengan AS Tak Akan Selesaikan Masalah
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait