Jitunews.Com
16 Agustus 2022 18:00 WIB

Tak Keberatan NasDem Gabung KIB, PAN Singgung 'Partai Ojol'

PAN mengatakan bahwa KIB masih terbuka dan senang jika ada parpol yang ikut

Viva Yoga Mauladi (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - PAN tidak keberatan jika Partai NasDem bergabung dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). PAN mengatakan bahwa KIB masih terbuka dan senang jika ada parpol yang ikut.

"KIB menurut kebijakan ketua umum partai masing-masing masih terbuka dan akan senang jika ada parpol yang ikut berkoalisi. Iya jika NasDem berminat maka PAN tidak berkeberatan masuk di KIB. Karena dari perspektif ideologi dan platform partainya relatif tidak berbeda secara signifikan," kata Waketum PAN Viva Yoga Mauladi, kepada wartawan, Selasa (16/8).

Viva berharap ada parpol yang memiliki ambang batas parlemen 4% yang bergabung. Menurutnya, hal itu bisa menambah kekuatan politik KIB.



Soal Capres yang Diusung Gerindra-PKB, Ini Kata Prabowo

"PAN berharap agar ada partai politik yang sekarang lolos parliamentary threshold 4% dan akan mengikuti pilpres 2024 agar dapat resmi bergabung di KIB. Dengan bergabung di KIB, maka tentu akan dapat menambah kekuatan politik di pasangan calon yang akan diusung KIB," ujarnya.

"Meski dengan tiga partai politik KIB dapat mengusung pasangan calon sesuai persyaratan Presidential Threshold 20% kursi DPR RI sebagaimana termaktub di pasal 222 Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Presiden, namun akan terasa lebih kuat jika ada parpol juga ikut bergabung. Apakah itu Partai Demokrat, NasDem, atau PKS," lanjutnya.

Viva menanggapi isu soal sejumlah parpol enggan berkoalisi dengan NasDem karena adanya isu 'pembajakan' partai.

"Jika ada praktik bajak-membajak antarkader partai, itu fenomena khas budaya politik Indonesia. Politisi pindah partai politik di era reformasi menjelang pemilu sudah bukan hal aneh dan mewah lagi," ujarnya.

"Praktik transfer pemain politik seperti itu sangat merugikan kewibawaan partai. Fungsi partai politik sebagai pilar demokrasi, tempat rekrutmen dan seleksi kepemimpinan nasional dan daerah, terdegradasi menjadi 'partai ojol', yaitu partai hanya digunakan untuk kendaraan politik sebagai syarat konstitusional dengan kompensasi tertentu untuk mengusung figur tersebut," ujarnya.

Zulkifli Hasan Berharap Bisa Dukung Sandiaga di 2024, Prabowo: Bagus
Halaman:
  • Penulis: Aurora Denata

Rekomendasi

 

Berita Terkait