Jitunews.Com
22 Juli 2022 13:20 WIB

Kasus Mafia Minyak Goreng, Kejagung: Akhir Bulan Ini, Penyerahan Tersangka Kepada Jaksa Penuntut Umum

diharapkan akhir bulan ini sudah tahap dua atau penyerahan para tersangka

Gedung Kejaksaan Agung (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah fokus menuntaskan perkara korupsi yang menjerat  tersangka Lin Che Wei (LCW) dan kawan-kawan terkait pemberian fasilitas ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya, termasuk minyak goreng.

“Karena diharapkan akhir bulan ini sudah tahap dua atau penyerahan para tersangka berikut barang-bukti kepada jaksa penuntut umum,” kata Jampidsus, Febrie Adriansyah dalam keterangannya, Rabu (20/7).

Oleh karena itu, kata Febrie, tim jaksa penyidik kini sedang tahap melengkapi berkas perkara yang menjerat lima tersangka dalam perkara korupsi ekspor CPO dan minyak goreng, agar dinyatakan lengkap baik secara formil maupun materil (P-21).



Soal Bagi-bagi Minyakita dan Minta Pilih Anaknya, Zulhas: Sabtu Hari Libur

Febrie menyebutkan, sejauh ini pihaknya belum menemukan bukti keterlibatan pihak lain di luar ke lima tersangka, termasuk dari mantan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dalam kasus tersebut.

“Karena semuanya sangat tergantung dari keterangan tersangka IWW dan LCW,” ucapnya.

Febrie menyebutkan alat bukti sampai saat ini masih kepada LCW dan 4 tersangka lainnya.

“Karena itu saya minta nanti teman-teman wartawan lihat di persidangan. Apakah ada perkembangan atau tidak,” tuturnya.

Dia menuturkan jika ada perkembangan dalam persidangan maka tim jaksa penuntut umum harus membuat nota pendapat.

“Karena pasti akan ada progres dari persidangan," sambungnya.

Namun untuk saat ini, Febrie mengatakan pihaknya belum bisa membuka semuanya.

“Toh dipersidangan surat dakwaan nanti akan kita buka semua. Karena kalau sekarang takut mengganggu teman-teman yang sedang pemberkasan,” paparnya.

Hanya saja, kata dia, karena jaksa telah berani menahan 5 tersangka, maka semuanya sudah clear.

“Pasti sudah ada alat buktinya karena tidak mungkin kita sembarangan," tuturnya.

Dia pun memastikan dalam kasus ekspor CPO ini selain ada kerugian negara juga kerugian perekonomian negara.

“Pasti ada kerugian negaranya dan teman-teman BPKP lagi menghitung. Nilainya belum tahu. Saya kira cukup besar," tegasnya.

Dikatakannya untuk kerugian negara dihitung ril pada saat kejadian perkara. “Sedang untuk kerugian perekonomian dari dampaknya, dan untuk menghitung BPKP mungkin akan menggandeng ahli dari akademisi,” ucapnya.

Zulhas Bagi Migor Sambil Kampanyekan Anak, Pengamat: Watak Kekuasaan yang Koruptif
Halaman:
  • Penulis: Khairul Anwar

Rekomendasi

 

Berita Terkait