Jitunews.Com
27 Oktober 2021 21:30 WIB

China Tak Akan Jadi Negara Pertama yang Akui Taliban sebagai Pemerintahan Resmi Afghanistan

Pakar meyakini jika China akan mengakui rezim Taliban jika Pakistan, Rusia dan Iran sepakat untuk melakukannya

Taliban (twitter.com)

BEIJING, JITUNEWS.COM - China kemungkinan tidak akan menjadi negara pertama yang mengakui gerakan Taliban sebagai pemerintahan resmi Afghanistan meski Beijing sudah menjalin kontak yang sangat positif dengan kelompok tersebut. Seorang pakar hubungan internasional pada China Institutes of Contemporary International Relations (CICR), Hu Shisheng, mengatakan bahwa China akan mengakui rezim Taliban jika Pakistan, Iran dan Rusia sepakat untuk melakukan hal yang serupa.

Taliban diketahui berhasil mengambil alih kendali pemerintahan di Afghanistan sejak pertengahan Agustus lalu dan kini sudah membentuk pemerintahan sementara di negara tersebut.

"Situasi akan berbeda saat empat negara, yakni China, Pakistan, Rusia dan Iran telah mencapai sebuah konsensus terkait hal ini. Kita (China) tidak akan menjadi yang pertama," katanya kepada Reuters.



Joe Biden Diminta Tak Jatuhkan Sanksi bagi India terkait Pembelian Senjata dari Rusia

Berbicara di Beijing Xiangshan Forum, sebuah forum keamanan yang diselenggarakan oleh think-tank resmi militer untuk mempromosikan pandangan China tentang keamanan, Hu memberikan wawasan langka tentang perhitungan China pada isu Afghanistan.

Dia mengantisipasi bahwa Amerika Serikat juga ingin memperkuat kerja sama militer dengan India, dimana hal itu dapat membuat India lebih berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan China.


Setelah menarik diri dari Afghanistan, Amerika Serikat juga berupaya melakukan negosiasi dengan negara-negara di kawasan itu, termasuk India, untuk mendirikan pangkalan militer yang akan digunakan untuk operasi kontra-terorisme terhadap kelompok-kelompok yang mereka anggap sebagai organisasi teroris yang beroperasi di Afghanistan.

"AS mengatakan pangkalan itu untuk memerangi teroris Afghanistan, tetapi bisa memiliki motif lain yang terkait dengan China dan Rusia," Du Nongyi, wakil ketua Institut China untuk Studi Strategis Internasional, bagian penelitian kementerian luar negeri, mengatakan kepada Reuters.

 

Ingin Perkuat Hubungan dengan ASEAN, Australia Janji Tingkatkan Bantuan ke Asia Tenggara
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait