Jitunews.Com
27 Juli 2021 11:00 WIB

Reaksi Dunia atas Krisis Politik yang Terjadi di Tunisia

Keputusan Presiden Tunisia mencopot perdana menteri dan menangguhkan parlemen memicu terjadinya situasi krisis politik di negara tersebut. Keputusan tersebut juga menuai kecaman, baik dari dalam maupun luar negeri

Rakyat Tunisia menggelar aksi unjuk rasa usai presiden mencopot perdana menteri dan menangguhkan parlemen (istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Keputusan Presiden Tunisia Kais Saied untuk menangguhkan parlemen dan mencopot perdana menteri menuai aksi protes, baik dari dalam maupun luar negeri. Pihak oposisi Tunisia menyebut tindakan Saied tersebut sebagai sebuah "aksi kudeta" pemerintahan.

Berikut beberapa reaksi dari sejumlah negara di dunia terkait tindakan Presiden Tunisia tersebut.

Turki



Perancis Desak Iran Segera Lanjutkan Proses Negosiasi Perjanjian Nuklir dengan AS

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan bahwa pihaknya sangat khawatir dan prihatin dengan keputusan Presiden Tunisia tersebut. Turki juga mendesak agar Saied segera mengembalikan "legitimasi demokrasi" di negara Afrika Utara tersebut.

“Pelestarian pencapaian demokrasi Tunisia, yang merupakan kisah sukses dalam hal proses demokrasi yang dilakukan sesuai dengan harapan masyarakat di kawasan, sangat penting bagi kawasan dan juga bagi Tunisia sendiri,” kata Kemenlu Turki, dikutip Al Jazeera.

Sementara itu, juru bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, juga mengecam tindakan Presiden Tunisia Kais Saied.

“Kami mengutuk inisiatif yang tidak memiliki legitimasi konstitusional dan dukungan publik. Kami percaya demokrasi Tunisia akan muncul lebih kuat dari proses ini,” tulisnya dalam postingan Twitter.

Qatar

Pemerintah Qatar mendesak seluruh politisi Tunisia untuk mencegah terjadinya eskalasi krisis politik di negaranya dan meminta mereka untuk menyelesaiakan permasalahan tersebut melalui pembicaraan.

"Qatar berharap pihak-pihak di Tunisia akan mengadopsi langkah dialog untuk menyelesaikan situasi krisis," kata Kementerian Luar Negeri Qatar dalam siaran persnya.

Amerika Serikat

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan bahwa pemerintah AS sangat prihatin dengan situasi di Tunisia saat ini, dimana krisis politik tersebut terjadi saat Tunisia berupaya menyetabilkan perekonomiannya yang diguncang pandemi Covid-19.

“Kami tetap menjaga kontak di tingkat senior dari Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri dengan para pemimpin Tunisia untuk mempelajari lebih lanjut tentang situasi tersebut,” kata Psaki.

“Kami mendesak semua pihak untuk bersikap tenang dan mendukung upaya Tunisia untuk bergerak maju sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi … kami akan meminta Departemen Luar Negeri untuk melakukan analisis hukum sebelum membuat keputusan yang lebih lanjut (terkait anggapan kudeta)," tambahnya.

PBB

PBB juga meminta seluruh pihak di Tunisia untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan dan memastikan situasi tetap tenang dan kondusif.

"Seluruh sengketa dan ketidaksetujuan harus diselesaikan melalui dialog," kata juru bicara PBB Farhan Haq.

Polisi Tunisia Serbu Kantor Media dan Usir Semua Jurnalisnya, Al Jazeera: Serangan terhadap Kebebasan Pers
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait