Jitunews.Com
18 Mei 2021 14:00 WIB

Jadi Korban Kebrutalan Junta Militer, Lebih dari 800 Warga Sipil Myanmar Tewas

AAPP melaporkan bahwa jumlah sebenarnya dari warga sipil yang menjadi korban tewas akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh junta militer Myanmar lebih dari 800 orang

Tim relawan paramedis yang membantu menangani korban aksi protes di Myanmar (AFP)

YANGON, JITUNEWS.COM - Kelompok aktivis HAM Myanmar mengatakan bahwa lebih dari 800 warga sipil telah terbunuh oleh junta militer sejak aksi unjuk rasa besar-besaran digelar untuk menentang pengambilalihan pemerintahan Myanmar oleh junta militer pada 1 Februari lalu.

Seperti diketahui, pada awal Februari lalu pihak militer meng-kudeta pemerintahan dan menculik sejumlah tokoh politik negara tersebut, termasuk pemimpin pemerintahan Aung San Suu Kyi. Tindakan militer tersebut memicu kecaman dari pihak internasional dan menyulut kemarahan rakyat yang langsung menggelar aksi unjuk rasa dalam skala besar. Tak hanya itu, rakyat Myanmar juga melakukan aksi pembangkangan massal yang melumpuhkan aktivitas perekonomian di negara tersebut.

Alih-alih meredam kemarahan rakyat, junta militer justru melakukan tindakan brutal yang menewaskan ratusan rakyat sipil Myanmar. Di tengah gelombang unjuk rasa dan bentrokan, sejumlah kelompok pemberontak bersenjata ikut mendukung gerakan rakyat sipil untuk melawan rezim militer, sehingga membuat situasi krisis politik di negara tersebut berpotensi meningkat menjadi perang sipil.



Tesla Disalahkan atas Merosotnya Nilai Bitcoin, Begini Klarifikasi Elon Musk

Menurut kelompok Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), sejak tindakan kudeta pemerintahan dilakukan, tercatat ada 802 warga sipil yang terbunuh oleh tindakan brutal junta militer.

"Angka ini sudah terverifikasi oleh AAPP, sedangkan jumlah korban tewas secara riil kemungkinan jauh lebih tinggi," kata aktivis AAPP dalam konferensi pers, dikutip Reuters.

Selain itu, AAPP juga mengatakan bahwa lebih dari 4.120 orang sudah ditangkap dan ditahan di dalam penjara, termasuk 20 diantaranya yang dijatuhi hukuman mati.

China Siap Fasilitasi Negosiasi Damai Afghanistan-Taliban
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait