Jitunews.Com
1 April 2021 08:43 WIB

Pentingnya Vaksinasi Covid-19 sebagai Upaya Pelindung Melawan Virus

Seri Edukasi 3 Saatnya Peduli untuk Sehat Bersama

Ilustrasi (istimewa)

Masyarakat dikagetkan khabar dari Prov.NTT, dimana media online INews
menulis judul berita “Takut Disuntik Vaksin Covid-19, Warga Satu Dusun
Sembunyi Di Hutan”.

Sejak dimulai Vaksinasi, penulis ketemu beberapa orang kenal maupun belum kenal yang bicara atau menyampaikan pendapatnya yang tidak mau di vaksin, dengan berbagai alasan.

Warta Ekonomi.co.id terbitan 25 Januari 2021 memuat hasil survey di akhir
tahun 2020 dengan 1.252 respondens dengan tehnik sampel probabilitas.
Hasilnya, 40,3% responden percaya vaksin COVID-19 merupakan cara terefektif menghentikan COVID-19. Namun dilaporkan 16% responden kurang tertarik dengan vaksin.



Masyarakat Siap Adaptasi Baru, Indonesia Memulai Vaksinasi Usia Lanjut

Hampir 70% tidak tertarik Vaksinasi Covid-19 karena khawatir dengan efek
samping vaksin. Lebih dari 30% mengatakan belum butuh Vaksin. Sebahagian lagi yaitu 17% merasa tidak sejalan dengan keyakinannya. Bahkan ada 10% menganggap Vaksin tidak ada gunanya.

Sementara itu BPS menginformasikan hasil survey daringnya yang dilakukan
pada September 2020 adanya 17% responden yang yakin atau sangat yakin dirinya tidak akan tertular Covid-19.

Dikaitkan dengan target Vaksinasi sebagaimana pernah dikemukakan Menteri
Kesehatan Ir.Budi Gunadi Sadikin bahwa target Vaksinasi harus mencapai
diatas 70% agar tercapai kondisi terlindungi yang disebut Herd Immunity.

Herd Immunity adalah Kekebalan kelompok yang tercapai setelah sebahagian
besar populasi menjadi kebal dari infeksi virus karena mendapat Vaksin
maupun terinfeksi sebelumnya.

VAKSIN MENGHIDUPKAN ANTIBODI PELINDUNG MELAWAN VIRUS

Vaksin adalah zat atau senyawa yang berfungsi membentuk kekebalan tubuh
terhadap suatu penyakit. Vaksin mengandung bakteri atau virus penyebab
penyakit yang telah dilemahkan atau dimatikan. Jika ia dimasukkan kedalam
tubuh maka vaksin akan merangsang system kekebalan tubuh memproduksi
Antibodi melawan menaklukkan sang bakteri atau virus.

Vaksin digunakan jika terjadi wabah luas yang berskala terbatas/epidemic atau lintas benua/ Pandemi yang belum ditemukan obatnya. Yang jika tidak
ditemukan Vaksinnya maka wabah akan meluas tidak terkendali.

Dunia sesungguhnya sudah akrab dengan Vaksin sebagai cara untuk
menghentikan penularan penyakit. Kita mengenal Vaksin Cacar, Vaksin Polio,
Vaksin BCG, Vaksin DPT, Vaksin SARS, Vaksin Meningitis.

Penyakit akibat virus Covid-19 BERBEDA DENGAN penyakit akibat virus lainnya. Masa inkubasi 14 hari diikuti keharusan Isolasi bagi yang terpapar atau perawatan bagi yang jatuh sakit karena Virusnya yang sangat Infektius atau sangat mudah menular dan ganas. Dampak penyakitnya berakibat kepada aspek Ekonomi, Pendidikan, Keagamaan, Sosial hingga PHK dan Kemiskinan.

Semua usia bisa terpapar dan terancam kesehatannya. Penelitian Balitbang
Kemenkes menemukan 53,9% kasus terkonfirmasi Covid-19 adalah kelompok usia 6-45 tahun. Kelompok ini aktifitasnya banyak terutama diluar rumah.

Sementara itu, lebih 70% kematian terjadi pada kelompok usia diatas 46 tahun termasuk yang berusia lanjut dan memiliki penyakit kronis.

Yang muda terinfeksi, yang tua yang Meninggal.

VAKSINASI ADALAH PILIHAN TERBAIK

Majalah popular Amerika Serikat, Newsweek 17 Maret 2020 dengan judul
sampul “How Soon Will Doctors Find An Answer”, tentu maksudnya menantang dunia kedokteran untuk menemukan Obat atau Vaksin untuk melawan virus Covid-19 yang mulai terbaca trend eskalasi infeksinya.

Yang menarik didalam majalah tersebut ada artikel berjudul “Can the Power of Prayer Alone Stop a Pandemic like the Coronavirus? Even the Prophet
Muhammad Thought Otherwise" yang ditulis oleh Prof.Craig Considine,
seorang Sosiolog Amerika yang juga seorang influencer global dari Rice
University, Houston Texas.

Prof.Craig Considine mendalami Pluralisme Agama, Hubungan Kristen-Islam,
Islamophobia, dan tentang Nabi Muhammad SAW. Sebagai influencer, ia punya ratusan ribu pengikut di Twitternya, Instagram, Facebook dan Youtube. Opini meluas keberbagai media global seperti New York Times, CNN, Al Jazeera, Newsweek, BBC, CBS News, Washington Post, France-24 dan banyak lagi.

Craig menulis "Bisakah Kekuatan Doa Sendiri Menghentikan Pandemi seperti
Coronavirus? Bahkan Nabi Muhammad Berpikir sebaliknya".

Tentu ini bisa membantu sebahagian masyarakat yang hanya mengandalkan
Do’a melindungi diri dari paparan Virus Covid-19 yang kini berseliweran
diantara anggota masyarakat.

Repotnya sebahagian besar orang yang terinfeksi tidak menyadari dan tidak
pula terlihat gejalanya sehingga tanpa sadar telah menularkan kepada yang
lain yang sangat mungkin adalah rekan sekerja, bahkan serumah dan keluarga.

Dalam tulisannya Prof.Craig bertanya "Apakah Anda tahu siapa lagi yang
menyarankan kebersihan dan karantina yang baik selama pandemi?,".
Dijawabnya sendiri "Muhammad, Nabi umat Islam, lebih dari 1.300 tahun
silam". Nabi Muhammad katanya bukanlah seorang ahli tradisional dalam soal penyakit mematikan. Namun, tulisnya, "Nabi Muhammad telah menyampaikan nasihat yang sangat baik untuk mencegah dan memerangi perkembangan [penyakit mematikan] seperti Covid-19."

Prof.Craig menyebut nasihat, dengan mengutip hadits yang dia maksud.
Muhammad bersabda: “Jika engkau mendengar wabah melanda suatu negeri, jangan memasukinya; tetapi jika wabah itu menyebar di suatu tempat sedang engkau berada di dalamnya, jangan tinggalkan tempat itu". (dikutip dari hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Masih mengutip hadits, Craig berkata: “Mereka yang telah terinfeksi penyakit
menular, harus dijauhkan dari yang sehat'." Dikutip dari HR.Bukhari dan
Muslim, dari Abu Hurairah.

Praktik itu telah digunakan saat terjadi Wabah Tha’un di Negeri Syam (suatu
wilayah diantara Israel, Jordania dan Syria) sekitar abad ke-7. Dimana yang
sehat terselamatkan dari wabah penyakit. Dan yang sakit ditangani secara
seksama sesuai kemampuan ketika itu.

Lalu, secara retoris Craig bertanya, bagaimana jika seseorang jatuh sakit?
Nasihat apa yang akan diberikan Nabi Muhammad kepada sesama manusia
yang sedang didera rasa sakit?. Jawabannya adalah: "Dia (Nabi Muhammad)
akan mendorong untuk mencari perawatan medis".

Dr.Craig pun mengutip hadits yang sangat terkenal. "Manfaatkan perawatan
medis (berobatlah), karena Tuhan tidak menciptakan penyakit tanpa obatnya,
dengan pengecualian terhadap satu penyakit usia tua (pikun)." (Hadits
diriwayatkan Imam Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Artikel Prof.Craig, sepenuhnya berbagi tentang Sang Nabi dan sabdanya yang
sangat diperlukan umat manusia, hari-hari ini.

Prof.Craig menekankan satu poin penting bahwa Nabi Muhammad mengajar
bagaimana menyeimbangkan iman dan akal.

SEMOGA PESAN PROF CRAIG MENAMBAH KEYAKINAN UNTUK VAKSINASI.

Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar

Jakarta, 28 Februari 2021

*)Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes : Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Penasehat PP PDHMI/ Penasehat DPP ICFAM/ WaKorbid.Orbida dan Taplai DPP IKAL Lemhannas/ Pengasuh media sosial GOLansia.com dan Kanal kesehatan.com

Kenali Efek Samping Vaksin Covid-19 di SehatQ
Halaman:
  • Penulis: Trisna Susilowati

Rekomendasi

 

Berita Terkait