Jitunews.Com
28 Maret 2021 12:41 WIB

Menghentikan Pandemi Multi Dampak

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap kehidupan di Indonesia

Ilustrasi (istimewa)

Setahun sudah Coronavirus (Covid-19) menginfeksi seluruh wilayah Indonesia. Setahun lalu, Bapak Presiden pada 2 Maret mengumumkan adanya kasus pertama penderita infeksi Coronavirus (Covid-19) di Indonesia.

Dibulan yang sama, pada 11 Maret 2020 diumumkan telah terjadi kematian pertama setelah terinfeksi Covid-19.

Keesokan harinya WHO melalui Direktur Jenderalnya Mr.Tedros menyatakan epidemi virus Covid-19 sebagai PANDEMI, yang maknanya bahwa virus baru ini telah menginfeksi manusia lintas benua dengan kondisi belum ada obatnya dan belum ada Vaksinnya.



Kenali Efek Samping Vaksin Covid-19 di SehatQ

Pada 15 Maret 2020, penulis menulis dengan judul “Belajar Dari Abad Ke-7 Tentang Keberhasilan Menghadapi Wabah” mengajak pembaca melihat Peta penyebaran virus Covid-19 dari Kota Wuhan China sejak akhir Desember 2019, sembari belajar menghindari dan memutus mata rantai penularan dengan belajar pada kearifan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW mengatasi wabah di abad ke-7 di Negeri Syam (diantara Jordania, Israel dan Syria), sebagaimana juga dikutip dan ditulis dalam Majalah Newsweek 17 Maret 2020 oleh DR.Craig Considine (Rice University, USA).

Begitu Pemerintah kota Wuhan menetapkan kebijakan Lockdown dan meminta semua Warga Asing kembali ke Negara masing-masing, sejak saat itu “pulang paksa” membawa Coronavirus sebagai “imported Cases” keseluruh dunia.

Di Indonesia, sejak diumumkan Bapak Presiden adanya kasus pertama pada 2 Maret 2020, virus Covid-19 bergerak dalam tempo cepat, perpindahan virus dari orang ke orang lintas kota, lintas Provinsi, lintas Pulau, berlanjut ke Kabupaten/Kota. Sehingga dalam 2 minggu jumlah kasus positif sudah menjadi 117 orang dengan kematian 5 orang.
Sementara itu kasus Global sudah menyebar ke 156 negara dan 1 Kapal Pesiar, menginfeksi 167.740 orang dan kematian 6.456 orang.

Kini, persis setahun sejak Virus Covid-19 terdeteksi di Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 adalah 1.425.044 orang (dengan pertambahan 5.589 orang), Kematian kumulatif sejak kematian pertama pada 11 Maret 2020 telah berjumlah 38.573 orang (dengan pertambahan sehari 147 kematian). Total sembuh 1.249.947 orang (87,7%), Kasus aktif sebanyak 136,524 orang yang sedang dirawat diberbagai Rumah Sakit Rujukan Covid-19 diseluruh Indonesia. Indonesia berada pada urutan terbanyak kasus ke-18 yang merupakan angka tertinggi diantara Negara ASEAN.

Sedangkan kasus Global, sudah menjangkau 220 Negara dengan kasus terkonfirmasi sebanyak 120.477.504 orang, kematian sebanyak 2.666.448 orang. Sembuh 97.023.377 orang (80,5%). Kasus aktif 20.787.679 dengan 87.826 kasus kondisi serius. Tampak tingkat Infektious/contagious/penularan virus ini sangat tinggi.

Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengancam Ketahanan Nasional

Disisi lain, rendahnya rasio test persejuta penduduk, menunjukkan rendahnya Tracing (pelacakan kasus) sehingga penyebaran kasus menjangkau seluruh 34 Provinsi dan 510 dari 514 Kabupaten/Kota se Indonesia.

Keadaan ini bisa semakin memperburuk berbagai aspek kehidupan masyarakat dan perekonomian Nasional. Profesional Lemhannas menemukan Indikator Indeks Ketahanan Nasional sudah mengarah keterancaman terhadap Ketahanan Nasional.

Covid-19 tidak saja menjadi masalah kesehatan, tetapi juga berdampak luas kepada ekonomi, pendidikan, sosial, keluarga dan juga keagamaan. Dibidang Ekonomi, termasuk Industri dan Perdagangan, mempengaruhi rantai pasok global untuk semua kebutuhan manusia, karena kurangnya dukungan dari kedua ujung rantai pasokan, yaitu Pasokan dan Distribusi.

Indeks Ketahanan Nasional sejak terjadinya epidemi Covid-19 menurun dari score 2,82 pada Desember 2019, menjadi 2,70 pada Juli 2020. Kondisi ini seolah kembali pada tahun 2015 (Dadan Umar Daihani/ Taprof.Lemhannas RI).

Dampak dahsyat dibidang Ekonomi dengan terjadinya Kemiskinan dan turunnya daya saing Nasional. Dibidang Politik dan Pemerintahan terlihat lemahnya Kapasitas dan munculnya ego dalam Relasi Pusat dan Daerah. Sementara dalam Ketahanan Ideologi terlihat penurunan Toleransi dan Solidaritas. Luasnya wilayah terpapar menunjukkan pula lemahnya Ketahanan Geografi.

Dampak lainnya adalah penurunan Ketertiban Sosial yang diikuti Gangguan dan Penurunan Perilaku Sosial. Hal ini ditunjukkan dengan Survei BPS yang menunjukkan adanya 17% lebih masyarakat yang tidak peduli dengan Covid-19. Balitbangkes Kemenkes menyajikan data rendahnya indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dan BKKBN menampilkan data peningkatan angka perceraian dan pernikahan dini yang sebahagian besar berlatar belakang masalah ekonomi.

Semakin lama kondisi Pandemi Covid-19, jelas akan meruntuhkan kualitas hidup dan rusaknya nilai-nilai sosial, solidaritas dan kebangsaan, sebagaimana juga dikhawatirkan oleh begawan ekonomi Prof.Emil Salim.

Dukungan Kuat Kesehatan Menyelesaikan Pandemi Covid-19

Sejak Presiden Jokowi menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang mendapat Vaksin Covid-19 pada 13 Januari 2021, maka dimulailah gerakan Vaksinasi Nasional dengan target 181,5 juta.

Menkes RI menginformasikan telah memesan 468,8 juta dosis Vaksin yang diproduksi 7 Industri dari 4 Negara termasuk Vaksin Merah-Putih produk BioFarma.

Tahap pertama sudah dimulai dan masih berlangsung sejak Januari hingga April 2021 dengan sasaran prioritas 1,3 juta Tenaga Kesehatan, 17,6 juta Petugas Publik (ASN, TNI, Polri dll), dan 21,5 juta lanjut usia.

Vaksinasi Tenaga Kesehatan sudah hampir tuntas. Sementara itu masyarakat lanjut usia sedang berjalan diberbagai lokasi pelayanan. Komunitas lansia menjadi prioritas karena merupakan group paling rentan. Hal itu ditunjukkan dengan tingginya angka kematian lansia dibanding kelompok usia lainnya.

Dari beberapa sumber diketahui sekitar 40% Lansia memiliki 2-4 jenis penyakit penyerta (Komorbid) seperti Diabetes, Hipertensi, Penyakit Jantung dan Paru, yang menjadi pemberat utama jika terinfeksi Covid-19.

Uniknya dilaporkan bahwa pelayanan Vaksinasi banyak dibanjiri para Lanjut Usia yang datang dari berbagai fasilitas kesehatan maupun yang digagasi Menkes RI dalam bentuk Drive Thru. Bahkan mereka datang dari wilayah berbeda KTP. Tingkat partisipasinya sangat dibanggakan.

Pelayanan Drive Thru diperluas keberbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya, dan direncanakan meluas keberbagai kota di Indonesia untuk menjangkau utamanya lansia.

Pelayanan Drive Thru, diselenggarakan dilapangan besar dimana peserta vaksinasi datang dengan kenderaan roda 4 dan roda 2, setelah melewati area pendaftaran, skrining Kesehatan (disini tim Dokter menilai apakah bisa lanjut atau tunda), kemudian menuju area vaksinasi oleh para Vaksinator terlatih, dan selanjutnya semua menunggu di area observasi selama 30 menit untuk mengantisipasi kemungkinan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) diawasi Tim Medis lengkap. Terakhir sebelum keluar mendapat Sertifikat Sudah Vaksinasi.

Kegiatan Drive Thru merupakan Kerjasama Kemenkes RI dengan berbagai Lembaga pelayanan Kesehatan online dan Rumah Sakit serta Dinas Kesehatan Provinsi sebagai penyedia vaksin dan tim monitoring KIPI.

Diarea parkir Kemayoran, kegiatan pelayanan vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan kerjasama Kemenkes, Halodoc dan PPK Kemayoran bersama Hermina Group dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, didukung klub gowes KOSEINDO.

Para pegowes KOSEINDO wara-wiri diarea parkir kenderaan peserta yang sedang fase Observasi yang jumlahnya ratusan kenderaan, mengamati jika ada peserta memanggil dengan membunyikan klakson, selanjutnya dilayani problem kesehatannya, dan jika butuh penanganan lebih spesifik dibawa kefasilitas mini-ICU, dan jika butuh rujukan akan dibawa dengan Ambulans rujukan.

Sementara itu Vaksinasi untuk 17,6 juta Petugas Publik (ASN, TNI, Polri dll) sudah dimulai. Berbagai Kantor Kementerian/Lembaga Pemerintah sudah dan sedang melakukan Vaksinasi, digerakkan oleh Kemenkes RI dibantu Dinas Kesehatan Provinsi setempat, dibantu para Vaksinator dari berbagai Rumah Sakit Pemerintah/Swasta maupun Fakultas Kedokteran dan Puskesmas.

Pelayanan Vaksinasi bagi Petugas Publik ini lebih menyenangkan karena diselenggarakan di kantor-kantor. Namun diperoleh informasi sementara lewat pantauan lintas media, bahwa cukup banyak ASN yang tidak menggunakan kesempatan Vaksinasi ini, bahkan ditengarai lebih 10%. Sang ASN tidak datang dan sebagian besar tanpa penjelasan. Keadaan ini jika benar, tentu sangat disayangkan. Sebagai Abdi Negara, selayaknya menjadi contoh dan penggerak terdepan dalam Program Vaksinasi.

Edukasi Masyarakat

Sebagaimana diketahui, kondisi imun dari virus Covid-19 baru dapat tercapai jika lebih 70% sasaran sudah tervaksinasi yang dikenal sebagai Herd Immunity atau kekebalan komunitas sebagai suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi melalui vaksinasi. Ini juga akan melindungi yang tidak di-Vaksinasi.

Sejumlah sasaran vaksinasi yang tunda/gagal vaksinasi karena alasan kontra- indikasi seperti faktor usia, penyakit penyerta seperti hipertensi yang tidak terkontrol, wanita menyusui dan hamil, penyintas Covid-19, bahkan bagi yang sedang demam diatas 37,5 ‘C. Namun keputusan vaksinasi ada pada Tim Medis di Meja Skrining.

Pelayanan Vaksinasi Covid-19 Drive Thru diselenggarakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat mengejar target 1.000.000 sasaran perhari, kata Pak Budi Gunadi Sadikin, Menkes RI yang menggunakan pendekatan inklusif berkolaborasi memperluas jangkauan pelayanan kesehatan.
Sejalan dengan pesan Deklarasi Jakarta 1997 yang memimpin Promosi Kesehatan kedalam Abad ke-21, mengingatkan akan pentingnya antara lain “meningkatkan kapasitas masyarakat, memberdayakan individu, investasi dibidang kesehatan dan kemitraan” untuk mencegah semakin jatuhnya kedalam kubangan kemiskinan.

Sebahagian besar masyarakat berada dalam lingkaran sakit dan miskin. Jika jatuh sakit akan semakin miskin. Jika miskin maka semakin rentan untuk jatuh sakit. Kalau sudah sakit, maka selalu penyakitnya butuh penanganan yang serius dan lama, sehingga semakin memperburuk kemiskinannya. Lingkaran interaktif negatif ini harus kita hentikan bersama dengan sama-sama ikut Vaksinasi.

Pesan Deklarasi yang sangat dikenal adalah “Poverty is the greatest threat to health”. Kemiskinan (akibat lamanya pengendalian virus Covid-19) menjadi Ancaman Terbesar bagi Kesehatan masyarakat.

Saatnya, semua masyarakat terpanggil berkontribusi mencegah siapapun jatuh miskin. Hentikan segera Pandemi Covid-19 dengan ikut Vaksinasi Covid-19.

Penulis:

*) Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes : Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Waketum PP Kestraki/ Penasehat ICFAM/ Penasehat PP PDHMI/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ WaKorbid.Orbinda dan Taplai DPP IKAL- Lemhannas/ Pengasuh media sosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

Mudik Lebaran 2021 Dilarang, DPR: Soalnya Kita Ini Belum Aman
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait