Jitunews.Com
16 Maret 2021 14:03 WIB

AS Diminta Segera Kembali ke Perjanjian Nuklir Sebelum Pemilu Iran Digelar

Menteri Luar Negeri Iran mendesak pemerintah AS untuk segera kembali masuk ke perjanjian nuklir Iran 2015 atau JCPOA

(Tehran Times)

TEHERAN, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk segera melangkah kembali ke dalam perjanjian nuklir Iran 2015 atau JCPOA sebelum Iran menggelar pemilihan umum pada Juni yang bisa saja membuat progres terkait negosiasi dan pembahasan terhenti.

"Pemerintahan yang lambat tidak akan dapat melakukan apa saja dengan serius...lalu kami harus menunggu selama hampir enam bulan. Kami tidak akan bisa menggelar pemilu sebelum September," kata Zarif dalam konferensi dengan Uni Eropa yang digelar secara online dari Brussels, dikutip The Times of Israel.

"Banyak hal yang dapat terjadi antara saat ini dan September. Jadi, saya sarankan Amerika Serika serikat untuk bergerak cepat," tambahnya.



Sebut Latihan Perang AS-Korsel Bau Busuk, Adik Perempuan Kim Jong-un Cari Perhatian?

Seperti diketahui, pemerintah Iran berulang kali meminta AS untuk menjadi pihak yang mengambil langkah pertama jika mereka berniat masuk kembali ke perjanjian JCPOA, usai pada 218 lalu Donald Trump membawa Washington keluar dari perjanjian tersebut dan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Teheran.

"Kami siap untuk segera kembali (ke perjanjian nuklir) setelah Amerika Serikat kembali mengimplementasikan perjanjian tersebut. Sesederhana itu," tambahnya.

Menurut Zarif, hingga kini pemerintahan Joe Biden tidak melakukan hal yang berbeda dari rezim Donald Trump.

Pada Februari lalu, Presiden AS Joe Biden menyampaikan bahwa ia sangat ingin kembali membawa AS masuk ke perjanjian nuklir tersebut, dan akan mencabut sanksi ekonomi yang telah membekap Teheran, jika Iran bersedia mematuhi aturan perjanjian tersebut dengan menghentikan perkembangan nuklirnya.

Sebaliknya, Iran mendesak AS untuk mencabut sanksi terlebih dahulu sebelum pihaknya bersedia kembali patuh terhadap perjanjian tersebut.

Angka Kelahiran Menurun, Korsel Hadapi Krisis Demografi Terburuk Sepanjang Sejarah
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait