Jitunews.Com
24 November 2020 09:42 WIB

Jokowi Minta Libur Panjang Dikurangi, Pakar: Yang Penting Itu Kan Social Distancing-nya

Riris menyebut peningkatan kasus corona membutuhkan waktu dua hingga tiga hari.

ilustrasi (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden Joko Widodo meminta libur panjang akhir tahun dikurangi. Pakar epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada, Riris Andono, menyebut libur panjang tidak akan mempengaruhi peningkatan kasus corona apabila masyarakat tetap berada di rumah dan melaksanakan protokol kesehatan jika keluar rumah.

"Sebenarnya bukan liburnya, yang penting itu kan social distancing-nya. Kalau kemudian problemnya kan begini, libur itu diidentikkan dengan boleh pergi ke mana-mana. Padahal kan nggak, tapi libur kan libur bekerja bukan kemudian libur itu diterjemahkan kemudian boleh untuk pergi ke mana-mana, atau kemudian boleh berkumpul di mana-mana. Problemnya kan di situ," kata Riris kepada wartawan, Senin (23/11).

Menurutnya, penularan Covid-19 bisa meningkat jika masyarakat pergi berlibur saat libur panjang dan tidak taat protokol kesehatan.



Infrastuktur dan SDM Indonesia Siap Vaksinasi COVID-19

"Jadi isunya yang menyebabkan libur panjang itu menjadi libur panjang itu menjadi sumber penularan karena ada persepsi bahwa etika libur kemudian status social distancing itu tidak berlaku lagi. Problemnya di situ, libur lebaran, libur Idul Adha, libur kemerdekaan itu kemudian diterjemahkan waktunya untuk sama seperti liburan ketika belum ada Covid," katanya.

Riris menyarankan kepada masyarakat yang tetap memilih untuk berlibur untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Itu yang menjadi masalah, padahal pesannya harus konsisten, libur tidak libur ya harus social distancing, kalau tidak perlu ya jangan keluar rumah. Kalaupun misalnya mau liburan carilah tempat yang tidak berkerumun dan menghindari kerumunan di tempat terbuka kalau bisa. Itu yang tidak diterjemahkan ketika membuat kebijakan libur," kata Riris.

Riris menyebut peningkatan kasus corona membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. Ia lalu menyinggung kerumunan acara Habib Rizieq Syihab.

"Toh hanya butuh dua tiga hari kemudian untuk peningkatan penularan. Atau kemudian, nggak usah libur panjanglah, kalau kemudian ada kerumunan seperti kemarin kedatangan Rizieq Syihab dan kerumunan berikutnya. Kan klasternya, jumlahnya semakin banyak. Belum kemudian ketika mereka menolak untuk di-tracing itu akan menular ke generasi berikutnya yang kontak dengan mereka. Nah hal semacam itu yang meningkatkan penularan, bukan masa libur atau tidaknya," katanya.

Berbeda dengan Jokowi, PPP Sebut Pengendalian Covid-19 Tidak Harus Ngurangi Libur Panjang Tapi...
Halaman:
  • Penulis: Aurora Denata

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita