Jitunews.Com
28 Oktober 2020 08:23 WIB

Maulid Nabi Jadi Penanda Gelaran Munas, KITA: Jangan Sekali-kali Nodai Hidup Kita dengan Politik Sektarian

Maulid Nabi adalah momentum untuk meneladani nilai kesantunan, perdamaian dan persaudaraan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Munas KITA di Bandung, 28 Oktober 2020 (jitunews)

BANDUNG, JITUNEWS.COM - Maulid Nabi adalah momentum untuk meneladani nilai kesantunan, perdamaian dan persaudaraan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Spirit dan nilai-nilai itu bisa untuk mewujudkan kehidupan berbangsa Indonesia yang damai dan tenteram.

Demikian dikatakan Ketua Badan Kebijakan KITA (Kerapatan Indonesia Tanah Air) di Bandung 27/10.

“Jangan sekali-sekali menodai hidup kita dengan politik sektarian, sukuisme, apalagi arogansi. Sesungguhnya Muhammad SAW hadir untuk membawa nilai kasih sayang, nilai egaliterian (persamaan derajat),” imbuh anggota komisi agama DPR RI ini.



KITA Jakarta Gelar Deklarasi, Maman Imanulhaq: Kita Harus Tetap Bergerak dan Kreatif

Peringatan Maulid ini menjadi penanda dimulainya gelaran musyawarah nasional KITA. Acara dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan pembacaan Al-Quran dan sholawat tolak bala’ oleh group musik Sang Gita pimpinan Dr. Yus Wiradireja.

Anggota Majelis Hikmah, Marbawi Aman Katong menjelaskan bahwa seluruh rangkaian Munas harus dijiwai dengan semangat kelahiran Sang Nabi.

“Spirit kelahiran Nabi Muhammad adalah semangat perubahan, perdamaian dan kemanusiaan dan toleransi. Munas ini akan menguatkan semangat kebangsaan saat adanya upaya penyebaran kebencian, fitnah, dan bahkan adu domba di kalangan anak bangsa oleh sekelompok orang yang ingin mengganggu harmoni dan kedamaian di Indonesia," ujar Kepala Departemen Politik Megawati Institute ini.

Musyawarah Nasional yang dihadiri semua pengurus KITA tingkat pusat dan perwakilan daerah seluruh Indonesia ini akan diisi Wacana Budaya dari Ketua Majelis Hikmah Taufik Rahzen yang mengambil judul, “Menenun Keselarasan Besar Kita, Cita dan Cipta”.

Sebelum sidang-sidang dan pembacaan rekomendasi, Munas akan dimulai dengan doa kebangsaan oleh pimpinan Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, KH. Abun Bunyamin.

Beberapa pertunjukan kesenian akan mewarnai Munas pertama KITA, di antaranya Tarian Topeng dengan Iringan Sholawat, Paduan suara Sang Gita, Tari kreasi Genjring Party yang dilanjutkan peluncuran Pesantren Melodia Indonesia, peluncuran Batik Kita oleh Almira Voice Jogja dan pembacaan Puisi Tanah Air karya Moh Yamin.

Di Munas ini para peserta akan membahas Visi Indonesia KITA, Refleksi Satu Tahun Jokowi-Amin, mendengar laporan 45 Dewan Perwakilan. Munas diikuti oleh perwakilan KITA Medan, Banten, Cirebon, Jogjakarta, Pontianak, Papua, Bandung, Kupang dan Jakarta.

Selanjutnya misi, strategi dan progam akan dibahas oleh 19 orang Gugus Karsa Permusyawaratan yang dipimpin Sekjen KITA Ayep Zaki. Yang menarik, semua peserta akan diajak berjalan kaki dari Hotel Grand Preanger menuju Gedung Majestik dalam kegiatan bertema “Historical Walk at Asia Afrika”.

Panitia Munas Hanief Muhammad menjelaskan bahwa Munas ini juga sekaligus peringatan sumpah pemuda dan 100 tahun Majestik. Ia menjelaskan ada beberapa pertunjukan menarik di Majestik diantaranya Reupbray oleh teater bayangan, Sholawat Tolak Bala, 5 film pendek Inspirasit, Tari Topeng dan pidato Kang Deni Nurdyana Hadimin tentang “Indonesia Ideas Festival”.

Bendahara Umum KITA Camelia Panduwinata menambahkan bahwa di Munas pun akan ada penandatanganan MoU antara KITA dengan beberapa pihak di antaranya dengan Taman Nusa Bali, Launcing Pesantren Melodia Indonesia, Balai Latihan Refleksi Ragat Uhud dan peluncuran buku Wirajiwa.

Menjelang Munas di Bandung, KITA Banjarmasin Gelar Raker
Halaman:
  • Penulis: Trisna Susilowati

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita