Jitunews.Com
3 Oktober 2020 10:37 WIB

Belajar Bijak dari Penyintas Covid-19

Mulanya biasa saja, masih muda, rajin olahraga, taat ibadah, jarang keluar rumah, kok kena?

Virus Corona Covid-19 (kompas.com)

Kemarin group mediasosial kanal-kesehatan.com menyelenggarakan webinar keempat dengan judul “Penyintas COVID-19 Bicara”. Ada 5 (lima) orang penyintas berkenan berbagi informasi kepada publik. Kegiatan yang diikuti 350an peserta diselenggarakan dengan kemitraan bersama Kemenkes RI.

Media sosial kanal-kesehatan.com melayani publik dengan berbagai informasi cerdas terkait kesehatan masyarakat dengan tujuan utamanya mencerdaskan masyarakat dibidang kesehatan agar hidup semakin cerdas, sehat dan menyehatkan, tidak saja untuk diri sendiri namun juga untuk masyarakat dan Bangsa.

Sebelumnya pada webinar keempat, bermitra dengan BKKBN, menampilkan isu “Milenial Cegah Covid-19”. Tampil Pembuka isu Kepala BKKBN Dr (HC).dr.Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). Webinar yang juga bisa diikuti dari jalur youtube dan streaming diikuti hampir seribu partisipan seluruh Indonesia.



Minta Pemerintah Tidak Kendor Tangani Covid-19, SBY: Jangan Hanya Menunggu Dewa Penolong

Webinar keempat, dibuka oleh Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI dr.Rizkyana Sukandi Putra,MKes dan sambutan Dr.dr.Trihono,MSc selaku Pemimpin Umum kanal- kesehatan.com.

Rizkyana mengingatkan perlunya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap Covid-19 melalui pengalaman para Penyintas Covid-19 terkait stigmatisasi di masyarakat. Melalui edukasi yang benar akan membangun Kebiasaan baru yang sejalan dengan penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Materi ini dipilih oleh Tim Kanalkes karena belum pernah diangkat luas, sementara dimasyarakat banyak beredar rumor dan stigma, Ada rumor covid-19 tidak berbahaya. Sembuh sendiri. Ini adalah konspirasi. Dan banyak lagi.

Pembiaran rumor ini menyebabkan sebahagian masyarakat lalai dan sebahagian lainnya membandel. Ini dinilai dapat membuat usaha Pemerintah menjadi tidak optimal.

Webinar#4 ini ternyata cukup banyak diliput media daring online seperti tempo.co, republika.co.id, antaranews.com, makassar.terkini.id, podiumnews.com, mnctrijaya.com, www.atmago.com, cnnindonesia.com, dll.

Perkembangan Penyebaran Kasus Covid-19

Penularan infeksi virus Covid-19 di Indonesia, sudah menjangkau seluruh Provinsi, dan
497 dari 514 Kabupaten/Kota. Pada 1 Oktober sudah 291.182 kasus terkonfirmasi, bertambah lebih 4.000 kasus dalam sehari. Dengan 10.856 kematian, bertambah 116.

Sementara itu di dunia menurut Infografis WHO, sudah menjangkau 215 Negara, dengan lebih 34 juta kasus dan lebih 1 juta kematian. Sementara itu sejumlah Negara banyak sudah terkendali yang pertambahan kasus dibawah 2 digit dan kematian dibawah 10 bahkan Zero, seperti China, Swedia, Singapura, Australia, Korea Selatan, Malaysia, Suriah, Thailand, New Zealand, Vietnam, Kamboja juga Timor Leste.

Pertambahan kasus saat ini bersumber 2 kejadian, pertama karena meningkatnya jumlah Test dan Tracing, sehingga sasaran test semakin efektif dan jumlah kasus bertambah signifikan. Kejadian kedua, adalah karena semakin banyaknya penyebaran kasus melalui kontak komunitas yang saling tidak tahu, tidak menyadari dan tidak waspada, sehingga muncul ditempat yang seharusnya menjadi percontohan seperti Kluster Perkantoran diikuti dengan kluster perumahan sejak Juni hingga kini.

Beberapa Negara dengan peningkatan jumlah test yang massif (kondisi 1 Oktober 2020), menyebabkan penemuan kasus yang sangat banyak. Tetapi tampak jelas pertambahan harian menjadi melambat bahkan memasuki fase penurunan pertambahan kasus dan penurunan angka kematian yang drastis seperti table dibawah ini :

TABEL

Melihat tabel diatas, Indonesia harus memilih. Pengendalian kasus harus diawali dengan Penemuan kasus. Penemuan kasus harus melalui Test dan Tracing. Test dan Tracing akan diikuti dengan pertambahan tajam jumlah kasus hingga mencapai batas pertambahan kasus perhari yang semakin menurun.

Itupun tidak cukup, tanpa dukungan dan kedisiplinan masyarakat serta peran aktifnya dalam menjalankan Protokol Kesehatan dan menjalankan setiap arahan PSBB. Kemauan bersama, Pemerintah dan Masyarakat, sangat amat menentukan nasib penanggulangan dan penanganan Covid-19 di Indonesia.

Apalagi virus ini belum ada Obatnya dan belum ada Vaksinnya. Satu-satunya Vaksin pencegahan adalah Masker.

Pengakuan Jujur dan Bijak Sang Penyintas

Masyarakat perlu belajar dari para penyintas atau Survivor yaitu orang-orang yang pernah menjadi korban virus Covid-19, yang selamat dari lobang jarum kematian.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, memaknakan Penyintas memiliki 2 arti yaitu, Orang yang mampu bertahan hidup, dan kedua, Orang yang dapat bertahan terhadap kondisi yang membahayakan kelangsungan hidup.

Dari Webinar#4 kerjasama kanal-kesehatan.com dan Ditpromkes Kemenkes tersebut, penulis coba menarik benang merah “sharing story” para penyintas Covid-19, agar kita bisa semakin waspada dan bukan dari bahagian komunitas abai.


Abai atau lalai atau anggap enteng tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi menjadi ancaman bagi orang-orang disekitar kita yang boleh jadi itu adalah orang-orang yang kita cintai, kita kasihi, dan orang yang sangat kita hormati.

Kak Brata Hardjosubroto memoderasi Webinar#4 didampingi Kak Kodrat Pramudho, memandu dan memancing keterbukaan para penyintas, menggali sebab dan suksesnya Penyintas memenangkan pertarungan “head to head” dengan virus Covid-19.

Penyintas pertama, Elzafira Feraza yang biasa dipanggil Zafira, masih belia berusia 27 tahun, lulusan cum-laude FT UI (Lingkungan) dan sedang melanjut post graduate di University College London. Banyak hasil penelitiannya, dan sejumlah penghargaan.

Dipertengahan Maret 2020, ia harus kembali ke Jakarta karena kampusnya ditutup karena kebijakan Lockdown.

Penerbangan London-Jakarta berjarak hampir 12.000 Km ditempuh sekitar 16 jam.

Lamanya dalam penerbangan dan didalam cabin pesawat ber-AC, Zafira menduga ditempat itulah ia terpapar virus Covid-19.

Setiba di Jakarta, ia langsung isolasi mandiri untuk 14 hari. Namun baru beberapa hari terjadi gejala kehilangan rasa penciuman (anosmia).
Saat itu Zafira berfikir “aah masih muda, paling sebentar juga sembuh”. Kemudian dilakukan Swab pertama (karena masih langka) diawal April diketahui terkonfirmasi positif. “walau saya tanpa gejala, tetapi membaca dari berbagai media betapa banyaknya korban, berpengaruh pada mental saya sehingga sempat mengalami penurunan kondisi”.

Dilanjutkan isolasi mandiri di Apartemen keluarga. Zafira berinisatif sesuai pesan keluarga dan Dokter keluarga untuk Swab ke 2 ternyata juga Positif. Dua minggu kemudian Swab ketiga, masih Positif, lanjut Isolasi mandiri. Bahkan hingga swab ke 8 masih Positif. Barulah Swab ke 9 dan 10 pada akhir Juni hasilnya Negatif.
Pada 1 Juli baru merasa yakin sembuh.

Zafira mengaku sebagai pengalaman aneh. 10 kali Swab, 8 Swab Positif. Isolasi mandiri 74 hari, tidak bisa kemanapun, hanya didalam kamar. Uniknya katanya, nyaris tanpa gejala, dan berlangsung begitu lama. “yang tidak saya pahami mengapa saya terinfeksi begitu lama”, pungkasnya.

Penyintas kedua, Ida Susanti (43), peneliti aktif pada Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan di Balitbang Kemenkes RI.

Pada awal Agustus mengalami demam, seminggu kemudian Swab dan beberapa hari kemudian diketahui Positif. Dianjurkan isolasi ke Wisma Atlet. Ada ketakutan jika dirumah. Tapi kebijakan Puskesmas mengatakan OTG cukup isolasi mandiri di rumah.

Saya takut sekali. Pikiran mencari lokasi isolasi. Tetapi terganggu fikiran dengan berapa besar biaya yang harus disediakan.
Lapor ke Puskemas di Swab lagi dengan hasil negative.

Selama 2 minggu isolasi mandiri di rumah. Orang tua sudah diungsikan. Saya tidak ada gangguan fisik. Yang jadi masalah adalah psikologis yi ketakutan akan sakit lebih parah atau kematian. Memang 10% kematian, tetapi itu besar.

Ada rasa bersalah kepada keluarga. Saya tidak bisa bayangkan jika ada keluarga yang tertular dari saya. Itu sangat mengganggu fikiran. Disamping terjadinya penurunan income. Sehingga malam sulit tidur (imsomnia), stress..stress..stress.

Kegiatan Handphone saya singkirkan. Karena didalamnya banyak berita yang menurunkan semangat. Selain berita kematian juga banyak pula berita hoaks. Saya tahu belum ada Obatnya. Saya perbaiki pola makan bergizi, Memanfaatkan bahan Tradisional seperti Lemon, Madu, Jahe, Kencur. Juga Yoga dan Tapping.

Saya semangati diri saya bahwa sudah banyak yang sembuh, dan saya harus sehat karena masih banyak harapan dan cita2 yang ingin saya lakukan untuk keluarga dan anak2.

Penyintas Ketiga : Ashar Budiman, 66 tahun. (seorang Pegiat Pramuka, juga Direktur suatu perusahaan yang bisnisnya dibidang IT).
Pak Budiman, yang panggilan akrabnya kak Babut, ingat ada lebih 10an rekannya yang
sudah wafat karena terinfeksi virus Covid-19.

Pak Babut curiga terinfeksi setelah mengunjungi keluarga yang sakit demam yang baru pulang dari luar kota. Kecurigaan lain mungkin di waktu jum’atan atau di kantor.
“Saya ketat mengatur aktifitas. Bahkan ikut mensosialosasikan cegah terpapar Covid-19”.
Awalnya merasa demam dan malas. Tulang terasa pegal bagai selesai olah raga berat, Malam menggigil.

Kemudian dengan fasilitas kantor, melakukan Rapid Test, hasilnya Negatif. Tapi saya ragu, kemudian saya ikut Swab drive thru di suatu Rumah Sakit. Setelah ditunggu beberapa jam, diketahui hasilnya Positif.

Dengan diskusi kepada rekan Dokter, saya dianjurkan isolasi mandiri di rumah. Setelah diskusi dengan istri, kami sepakat saya mengisolasi diri dikamar lain.
Tapi selama Isolasi mandiri di rumah tidak tenang, karena hanya berdua dirumah dengan istri. Akhirnya setelah diketahui infeksi sudah sampai di paru, saya dimasukkan ke RS. Bertemu dengan banyak yang terinfeksi, Mereka menghibur saya supaya happy-happy saja.

Saya memahami penyakit ini adalah kodrat Allah. Perlu ikhlas dan ikhtiar berobat, hati tenang. Di RS saya diajari berbagai protokol dan diinformasikan dengan berbagai masalah kesehatan yang ada dalam tubuh saya, yang selama ini tidak saya ketahui.

Penyintas Keempat : dr.Nurhidayati, 30 tahun. Mengawali karir PTT di Puskesmas di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sekarang sebagai Dokter klinis pada RS Sulianto Saroso, Jakarta, yang sejak Maret berkonsentrasi untuk pelayanan kasus Covid-19.

Mulai kena pada awal april dengan gejala meriang, pusing, hidung tersumbat dan kehilangan rasa penciuman.
Sama seperti yang lain ada rasa seperti ada dahak di tenggorokan tapi tidak bisa keluar. Hal lain terasa badan terasa capek, nyeri seluruh tubuh.

Semula menduga karena efek sedang hamil 22 minggu, dan tetap bekerja dan pakai masker termasuk di rumah.

Masih tidur dengan suami dan anak-anak. Seminggu kemudian, memeriksakan diri dan test Rapid sekalipun gejala sudah berkurang, ternyata Reaktif dan langsung hari itu juga di Swab. Hasilnya diketahui 3 hari kemudian dengan hasil Positif.

Diberitahu malam hari oleh pimpinan Rumah Sakit.

Saya langsung khawatir dengan orang-orang dalam rumah.

Saya memutuskan isolasi mandiri di Rumah Sakit, tidak dirumah karena anak saya susah pisah dari ibunya. Berdasarkan hasil lab darah memang kondisinya harus di opname. Selama dalam perawatan gejala lain mual dan BAB cair selama seminggu.

Selama dalam perawatan, merasa khawatir apalagi sedang hamil.

Masyarakat sekitar rumah geger ketika Tim Puskesmas datang kerumah dengan APD untuk memeriksa keluarga dirumah saya. Ini menjadi stigma, masyarakat nyaris tidak ada yang berani lewat dari depan rumah saya, termasuk tidak belanja ke toko milik orang tua saya dipasar karena kata mereka “awas anaknya kena Covid-19”, walaupun saya sudah Negatif.

Minta bantuan bu RT via WA dan Tempon menjelaskan tentang Covid-19 dan menegaskan saya sudah sembuh, Namun tetap masih ada yang men-stigma, sekalipun sudah dijelaskan.

Penyintas Kelima : Ir.Bagiyo Riawan,MM.CRGP, alumni ITB, 62 tahun. Bekerja sepanjang hidup didunia PLN, sebelum pensiun menjabat Direktur Pengadaan Energi Primer PLN.

Pak Bagiyo meyakini dirinya tertular virus Covid-19 dari kantor. Pada awal Juli pernah mengikuti rapat di Kantor yang ruangannya tertutup dan ber-AC.

Memang sejak juni 2020 mulai merebak penyebaran Kluster perkantoran.

Tidak lama setelah rapat, terkhabar salah seorang peserta rapat mengalami demam tinggi. Setelah dilakukan uji swab, ybs dinyatakan konfirmasi positif.

Mengetahui ada peserta rapat terkonfirmasi positif Covid-19, pak Bagiyo pun langsung mengikuti test Swab. “Walaupun belum ada gejala, tetapi saya melakukan test swab” kata Bagiyo.

“Rasanya saya seperti terpidana berat dengan tuntutan hukuman mati”, Saya pegowes aktif, 3 kali seminggu di area aman. Namun “saya harus menerima kenyataan, jujur kepada diri sendiri dengan sikap antisipasi untuk penyembuhan serta didukung dengan kecintaan dan perhatian kepada keluarga, merupakan kunci keberhasilan untuk kesembuhan” tekadnya.

Pak Bagiyo, langsung ke Klinik kantor minta obat-obatan untuk demam dan radang tenggorokan. Kemudian cari Rumah Sakit, semua penuh termasuk rekomendasi Asuransi. Akhirnya dapat RS yang tidak ditanggung Asuransi.

Yang menolong selain disiplin menjalankan prosedur isolasi dalam perawatan, juga punya mental positif terhadap Covid-19 sebagai ujian keimanan, serta resep bahagia bersama keluarga. Dan percaya pada apa yang dilakukan Tim Dokter.

Pesan Penting dari Para Penyintas

Pahami kondisi status kesehatan diri kita. Jangan merasa kuat karena usia muda. Disiplin menjalankan Protokol Kesehatan. Penularan bisa didapat dari manasaja, menunggu kelalaian, sekecil apapun kelalaian, sang Virus Covid-19 menemukannya.

Jika terinfeksi atau curiga, sekalipun belum bergejala, segera ke Puskesmas untuk dilakukan Pemeriksaan dan Test jika diharuskan. Jika Isolasi atau dalam perawatan tetap meyakini akan kesembuhan.

Berfikir positif, Olahraga, Makan bergizi, Cukup minum, Beribadah dan berdoa adalah sumber terbaik Imunitas.

 

Penulis:

*) Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes : Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Ketua Orbinda PP IKAL Lemhannas/ Pengasuh / GOLansia.com dan Kanal- kesehatan.com

Trump Kena Covid-19, Akankah Dia Disuntik Disinfektan?
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita