Jitunews.Com
14 Agustus 2020 12:32 WIB

Food Estate, Strategi Menghadapi Krisis (Bagian 3)

Food estate sedang dibangun untuk memperkuat cadangan pangan nasional

Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato kenegaraannya pada pelaksanaan sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/2020) (HUMAS MPR)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sektor pangan menjadi isu krusial di tengah ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi dan krisis ekonomi. Di tengah pandemi Covid-19 yang disusul dengan gelombang resesi ekonomi dunia, dikhawatirkan akan memunculkan krisis pangan. Apalagi kondisi itu juga sudah diperingatkan oleh lembaga pangan dunia Food and Agricultural Organization (FAO).

Dalam sidang tahunan MPR RI, Jumat (14/8), Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo kembali mengingatkan pemerintahan Presiden Joko Widodo soal ancaman krisis pangan. Bamsoet, begitu biasa ia disapa mengungkapkan, negara-negara di dunia saat ini tengah merancang politik pangan untuk mengamankan kebutuhan pangannya.

"Pertarungan dalam memenuhi dan mengawal ketersediaan pangan akan menjadi penentu gerak bandul geopolitik global," kata Bamsoet dalam pidato pada sidang tahunan MPR.



PPSN Gelar FGD Pertanian 4.0, Daryatmo: untuk Tingkatkan Daya Saing Produk Pertanian

Ia meminta pemerintahan saat ini untuk benar-benar serius terhadap isu itu. Pemerintah wajib melakukan peningkatan produksi pangan dalam negeri. Salah satu caranya adalah dengan memberikan bantuan kepada petani-petani yang notabene merupakan petani kecil.

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk meningkatkan fasilitas produksi pertanian seperti pemutakhiran mesin dan peralatan pertanian, pemberian subsidi pupuk dan benih, serta fasilitas pendukung produksi lainnya.

Sebetulnya, pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo sudah memiliki solusi menghadapi krisis pangan. Food estate jadi jurus pamungkas Jokowi untuk menghadapi ancaman krisis pangan dunia.

Dalam pidato kenegaraan di sidang tahunan MPR RI, Presiden Jokowi juga menyinggung soal isu ketahanan pangan. Bahkan, kata Jokowi, food estate tidak hanya akan dibangun di Kalimantan Tengah saja, namun di beberapa daerah lain juga bakal dikembangkan.

"Food estate sedang dibangun untuk memperkuat cadangan pangan nasional, bukan hanya di hulu, tetapi juga bergerak di hilir produk pangan industri. Bukan lagi menggunakan cara-cara manual, tetapi menggunakan teknologi modern dan pemanfaatan kecanggihan digital. Bukan hanya untuk pasar domestik, tetapi juga untuk pasar internasional," begitu kata Jokowi dalam pidato kenegaraannya.

Rencananya, proyek food estate di Kalimantan Tengah dapat mulai bisa digunakan untuk musim tanam pada bulan Oktober 2020 di lahan 30ribu hektare. Kemudian pada tahun 2021-2023 pemerintah bakal menambah perluasan food estate seluas 118.268 hektare. Dengan begitu, total food area food estate dalam empat tahun ke depan mencapai sekitar 148 ribu hektare.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Kementerian Pertanian, Husnain dalam diskusi yang digelar Pusat Pengkajian Strategi Nasional (PPSN) mengatakan, ada enam kementerian dan lembaga yang terlibat dalam proyek tersebut. Khusus Kementan, bertanggung jawab pada penyediaan sarana produksi pertanian.

Kementerian Pertanian juga memastikan proyek food estate bakal menggunakan teknologi paling mutakhir, sehingga produktivitasnya bisa meningkat yang biasanya saat ini per hektare lahan pertanian hanya menghasilkan 2 ton, dengan sentuhan teknologi bakal meningkat menjadi 5 ton per hektare.

Adapun untuk pasca panen, perusahaan yang menjadi off taker atau penyerap akan dikoordinasikan oleh BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). RNI bakal menjadi BUMN yang memimpin untuk pengolahan beras hingga pada tahap pemasaran.

Food Estate, Strategi Menghadapi Krisis (Bagian 1)
Halaman:
  • Penulis: Vicky Anggriawan

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita