Jitunews.Com
12 Juli 2020 06:57 WIB

Istilah New Normal Disalahartikan, Achmad Yurianto: Selalu Dikatakan New-nya Dihilangkan

Achmad Yurianto mengakui bahwa pemerintah telah salah dalam menggunakan istilah new normal

Achmad Yurianto (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Juru bicara pemerintah khusus untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengakui bahwa pemerintah telah keliru dalam menggunakan istilah 'new normal', sehingga sering disalahartikan oleh masyarakat.

Masyarakat beranggapan bahwa istilah 'new normal' berarti situasi telah kembali normal dan wabah Covid-19 telah berakhir. Namun, data pemerintah masih menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus, dimana saat ini telah mencapai lebih dari 74 ribu kasus Covid-19 dengan 3.535 kematian.

"Karena kan selalu dikatakan new-nya dihilangkan, sehingga tinggal normalnya aja. Masyarakat tahunya oh sudah normal," kata Achmad Yurianto dikutip dari IDN Times pada Minggu (12/7).



Kasus Positif Tambah 1.611, 9 Provinsi Tak Ada Penambahan Kasus

Untuk meluruskan anggapan masyarakat, kini pihaknya akan mengganti istilah tersebut dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Menurutnya, istilah AKB ini lebih menitik beratkan pentingnya perubahan kebiasaan masyarakat karena kemungkinan wabah bisa berlangsung hingga beberapa waktu mendatang, sebelum ditemukannya vaksin yang aman dan efektif.

"Kebiasaan lama, masker dipakai ketika tengah sakit. Sekarang, kebiasaan baru walau gak sakit juga pakai masker. Kebiasaan baru sekarang kalau bicara gak kenceng-kenceng dan jaga jarak," tutur Yuri.

Akui New Normal Diksi yang Salah, Pemerintah: Sudah Kita Ubah, Tapi...
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita