Jitunews.Com
9 Juli 2020 09:05 WIB

Gagalkah Indonesia Menangani Covid-19

Respons dunia: meraba-raba, salah menilai dan mengabaikan.

Test Covid-19 (ist)

Sejumlah group media sejak Mei mengutip sejumlah analis asing yang menulis tentang Indonesia yang gagal dalam menangani virus Covid-19. Termasuk Melbourne Asia Review melalui Gridhype.id.

Indo Barometer bekerjasama dengan RRI melakukan survei dipertengahan Mei 2020 pada 7 provinsi, dengan hasil 53,8 % mengaku tidak puas dengan langkah Pemerintah menangani Covid-19. Dan 84,3% tidak puas atas penanganan dampak/akibat Covid-19.

Ketidakpuasan publik atas kinerja penanganan Covid-19, antara lain utamanya Kebijakan yang tidak konsisten, termasuk seringnya berbeda kebijakan antara Presiden dan Pembantunya.



Pertanyakan Anggaran Corona Rp 4,48 T, PAN: Jangan-jangan Bukan untuk Kemenkes Saja

Sementara 44% responden puas atas kebijakan Pemerintah dalam pelaksanaan PSBB, pasien mulai banyak sembuh dan kerja nyata Pemerintah.

Penulis menelusuri dan mencari apakah ada negara sukses menghadapi Covid-19.

Dari pengamat Kesehatan pada Munich Hospital Jerman, Dr.Camilla Roethe mengungkapkan pengalamannya yang dimuat dalam The New York Times 29 Juni 2020 yl ditulis oleh Matt Apuzzo dkk, dibawah judul “How the world missed Covid-19 silent spread”. Dilaporkan beliau penasaran dan mencari sebab mengapa dunia “tidak menyadari” sebaran tersembunyi Covid-19.

Setelah dua bulan berjalan sejak dilaporkannya kasus Coronavirus akhir tahun 2019 di Wuhan China, dan merebak ke seluruh dunia, ditemukan penyebaran virus COVID-19 melalui orang-orang yang tidak bergejala, didukung banyak bukti yang valid.

Namun, Pejabat Kesehatan termasuk WHO dan CDPC Eropa belum percaya.

Sementara berbagai laporan akademi lain mengatakan bahwa penyebaran COVID-19 hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang bergejala.

Kasus kapal pesiar Diamond Princess membuktikan bahwa penyebaran tanpa gejala itu benar.

Dr.Roethe menemukan respons dunia yang gagap/bingung terhadap Covid-19 karena asumsi awal para ahli yang salah, persaingan/debat antar Lembaga penelitian berkepanjangan, penolakan mengakui adanya penderita tanpa gejala, dan dugaan adanya upaya (Pemerintah) yang menghindari “kenyataan” untuk menahan virus karena butuh kebijakan yang keras.

Sikap “menolak kenyataan” menjadikan dunia terlambat merespons.

Andai tiap negara memberikan respons cepat dan agresif, bisa menyelamatkan puluhan ribu kematian.

Singapura dan Australia yang cepat melakukan surveilans epidemiologi, melakukan test dan tracing/pelacakan kasus sehingga menemukan kasus dalam jumlah sangat besar.

Masih ingat dua bulan yang lalu ketika Singapura yang berpenduduk 5,8 juta maupun Australia yang berpenduduk 25,5 juta dengan jumlah kasusnya jauh diatas Indonesia.

Banyak publik heran, mengapa Singapura yang penduduknya sedikit namun kasusnya puluhan ribu.

Langkah cepat berdampak nyata kepada angka kematian dan angka kesembuhan.

Terbukti angka kematian Singapura termasuk terkecil yaitu 0,05 % dengan angka kesembuhan 87,0 %. Sedangkan Australia dengan kematian 1,3 % dan kesembuhan 90,1 %.

Kedua negara dengan kesembuhan sangat tinggi, serta pertambahan kasus yang kini bagai berhenti.

Saat ini dunia berhadapan dengan kenyataan adanya orang-orang terinfeksi virus Covid-19 dengan tanpa gejala, tanpa merasa sakit, aktivitas tidak terganggu.

Namun mereka berkontribusi sebesar 30-60 % terhadap penyebaran virus Covid-19 ditengah masyarakat.

Kasus tanpa gejala ini, tercatat paling menonjol al di Hongkong, Singapura dan China.
Inilah masalah yang paling besar dan mengkhawatirkan dalam Pandemi Covid-19.

WASPADA GELOMBANG KEDUA

Sekalipun kini kasus Global sudah menembus angka 10.000.000 dengan kematian lebih 500.000 orang, tidak seorangpun ahli berani menyimpulkan apakah fase atau puncak kondisi terburuk sudah kita lewati.

Justru yang kini muncul adalah kekhawatiran terjadinya “second wave” gelombang kedua.

Hal itu logis terjadi. Melihat apa yang terjadi saat ini di China, setelah lebih sebulan nyaris tanpa kasus dan aktivitas masyarakat mulai dilonggarkan, kasus baru kini muncul merebak. Tidak hanya kota Wuhan dan Beijing dinyatakan Lockdown kembali. Ternyata hal yang sama juga kembali lockdown di Jeddah (Arab Saudi).

Sebaran infeksi gelombang kedua, diduga bisa lebih kuat dan luas, karena sang virus sudah bermutasi dan adaptasi terhadap antibody manusia yang mulai muncul, disamping mereka yang kini sembuh kondisi imunitas masih rendah dalam fase recovery/penyembuhan yang butuh waktu sekaligus “isolasi” untuk menghindari terinfeksi kembali.

Sebarannya bisa lebih luas karena pola sebaran sudah bergeser dari semula Imported Cases, kini menjadi Community Spreads dan Transportation Cases (Indonesia Negara Kepulauan).

Situasi ini dialami banyak Negara didunia, termasuk negara super modern, maju dan bertehnologi kesehatan yang canggih.

Nyaris semua merespons dengan “kebingungan”, fumbled (meraba-raba), mis-judge (salah menilai) dan ignore (mengabaikan) terhadap pilihan bersikap tegas untuk melakukan respons kegawatdaruratan.

Ternyata sebahagian besar Negara di dunia gagal merespons Covid-19, apalagi ditengarai WHO juga sering terlambat merespons dinamika virus serta kurang memperhatikan kemampuan tiap negara.

WHAT NEXT INDONESIA

Agenda Indonesia tepatnya meneruskan, memacu dan meningkatkan jumlah cakupan dan efektifitas test, sejalan dengan hasil surveilans epidemiologi kasus dan kontaknya.

Saat ini dengan 850.000 test, menemukan 58,000 kasus. itu berarti efektifitas penemuan 6,8% atau dari 100 test ditemukan tujuh orang positif.
Apakah ini efektif dan efisien?.

Jika mengambil data dari Ratas Kabinet yang dipimpin Bapak Presiden Jokowi pada akhir Maret 2020, beliau mengatakan ada sekitar 1 juta lebih pelintas masuk dari 135 pintu masuk imigrasi, karena pelintas harus pulang dari Negara tempat mereka bekerja yang menerapkan kebijakan Lockdown karena Covid-19.

Sementara Menkumham pada RDP dengan Komisi II DPRRI menyebut angka sekitar 800.000 orang pelintas.

Dari informasi pelintas, bisa dibuat asumsi perkiraan jumlah sasaran aktual untuk di Test.

Jika ada 1.000.000 WNI/WNA pelintas, kemudian ditambah dengan hasil Tracing/Pelacakan kasus/kontak sang pelintas (antara lain, bisa supir, penjaga rumah, asisten RT, keluarga dan kolega, dan kontak lainnya ditempat umum), semua bisa menjadi 6-10 juta suspect (yang dicurigai terinfeksi).
Andai setengahnya sembuh sendiri (self limited disease), maka ada 3-5 juta orang yang wajib test PCR/Swab.

Mari kita lihat negara lain, berapa tingkat efektifitas Test nya. Amerika Serikat 35 juta test menemukan 2,8 juta kasus atau efektif 8,1 %. India 9,0 juta test menemukan 627.000 kasus atau efektif 6,9 %. Ini adalah contoh Negara yang masih akan panjang masalahnya dengan Covid-19.

Mari kita lihat contoh Negara yang sudah masuk level grey area (tidak ada lagi kasus aktif) seperti CHILI dengan 1,1 juta test menemukan 284.000 kasus, efektifitas 25,8 %. ITALIA dengan 5,4 juta test menemukan 240.000 kasus, tingkat efektifitas 44,4 %. JERMAN dengan 5,8 juta test menemukan 196.000 kasus atau tingkat efektif Test 33,8 %.

Rendahnya Efektifitas Test, tampaknya dilatar belakangi pilihan sasaran yang acak atau permintaan test bukan dengan alasan diagnostik (tanpa peta sasaran).

Sementara, negara dengan efektifitas tinggi karena Case finding dan Tracing yang kuat.

Indonesia harus memilih cara tepat dan tegas, bekerja cepat dan efektif.

Karena tingkat mobilitas masyarakatnya yang relative tinggi dengan disiplin relative rendah serta kualitas atau imunitas kesehatannya juga tidak terlalu baik.

Berapa Test yang harus Indonesia sediakan?. Jika Efektifitas Sasaran Test hanya 7%, maka akan sangat banyak Test yang harus disediakan (mencapai puluhan juta Test).

Jika Tracing efektif, maka Efektifitas Test meningkat.

Jika Indonesia mencapai Efektifitas Test seperti Chili, Italia dan Jerman bisa diatas 30 %, maka jumlah ketersediaan Test akan menurun 4-5 kali.
Lebih efektif, efisien dan akuntabel.

POLA PENDEKATAN SUKSES

Kebijakan Test mutlak dilakukan. Pencaharian kasus melalui pelacakan (Tracing) secara cermat dan tegas wajib dilakukan.

Penapisan kasus secara langsung dan aktif dilakukan untuk memastikan Jumlah sasaran efektif Test.

Penetapan waktu Test dalam interval waktu yang pendek, misalnya seminggu untuk menjangkau semua sasaran Test akan menghasilkan peta kasus, diikuti penggerakan tindakan treatment berupa Isolasi atau Karantina medis.

Tindakan berpola dan berencana dengan kesiapan infrastruktur di lapangan, akan memutus rantai sebaran virus Covid-19 sekaligus menghentikannya.

Di era Industri 4.0, Pemerintahan melakukan pendekatan kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat melalui Awareness Based Collective Action.

Sedangkan Masyarakat melakukan Penguatan seluruh sumberdaya terkait untuk hidup sehat sejahtera (Strengthening Source Well Being).

Seperti arahan Bapak Presiden, agar semua penyelenggara negara tidak “bekerja biasa-biasa saja, dan bersikap seperti tidak ada apa-apa”.
Tugas kita kata Presiden : bukan hanya membuat dan melaksanakan kebijakan, tetapi tugas kita adalah membuat masyarakat menikmati pelayanan, menikmati hasil pembangunan,".

Agenda mendesak

Pemerintah kini dan kedepan adalah kemandirian dalam Pembangunan Kesehatan yang meliputi Pengembangan Industri Perbekalan Kesehatan seperti Alat Medik, Sediaan Farmasi seperti Obat-obatan baik Konvensional maupun Non Konvensional/Tradisional, serta Vaksin.

Paling mendesak adalah pengembangan Kesehatan Tradisional untuk mendukung arah penguatan Well Being (Sehat Sejahtera dengan imunitas alami) dan pengembangan laboratorium serta pembuatan Vaksin.

Saatnya kemandirian diwujudkan dengan Performans Fasilitas Pelayanan Kesehatan, yang menyediakan pelayanan Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan sesuai Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Kesehatan Bukan Segalanya, Tetapi Tanpa Kesehatan Segalanya Tidak Ada Artinya.

STOP GAGAL, JALANKAN DISIPLIN PROTOKOL KESEHATAN

 

PENULIS: Dr.Abidinsyah Siregar

Dr.Abidin/ GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

*) Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua Harian MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Ketua Orbinda PP IKAL Lemhannas

Kritik Keputusan AS Mundur dari WHO, China: Meremehkan Upaya Melawan Corona
Halaman:
  • Penulis: Aurora Denata

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita