Jitunews.Com
2 Juli 2020 20:24 WIB

Kang Maman Pahami Alasan Jokowi Marah-marah ke Menterinya

Maman menilai kemarahan Presiden Jokowi sangat wajar mengingat di tengah pandemi Covid-19 memang dibutuhkan penanganan yang extra-ordinary dari para pembantunya namun kenyataannya terlihat gugup dalam pelaksanaannya.

Maman Imanulhaq (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq mengomentari kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada sidang paripurna kabinet yang ditayangkan akun sosial media Sekretaris Negara pada Minggu, (28/6) lalu.

Menurut Maman, marahnya Jokowi adalah bentuk kekecewaanya terhadap kinerja para pembantu-pembantunya di tengah pandemi Covid-19.

“Saya yakin bahwa dari sisi gestur ataupun dari kata-kata yang dikeluarkan presiden itu memang beliau marah, kecewa, sedih juga. Lihat aja ketika ada kata-kata jangan biasa-biasa, jangan linier dan sebagainya termasuk akan mengkoreksi lembaga dan sebagainya. Itu bukti kemarahan,” ujar Maman dalam diskusi online ‘Di Bawah Bayang-bayang Ancaman Reshuffle Kabinet’ yang digelar Jitunews.com, Kamis (2/7/2020).



Menteri Kena Marah, Peneliti LIPI: Keresahan yang Luar Biasa dari Pak Jokowi

Maman menilai kemarahan Presiden Jokowi sangat wajar mengingat di tengah pandemi Covid-19 memang dibutuhkan penanganan yang extra-ordinary dari para pembantunya namun kenyataanya terlihat gugup dalam pelaksanaannya.

“Ternyata kita berhadapan dengan sesuatu yang agak sulit, gagap,” tuturnya.

Dalam hal ini, Maman menyebut ada tiga faktor yang membuat Presiden Jokowi marah pada saat sidang paripurna kabinet.

Menurutnya faktor yang pertama menyangkut persoalan mental birokrasi di negeri ini, apalagi birokrasi tersebut ikut libur pada saat awal-awal pandemi covid-19 sehingga tidak siap saat menghadapi kondisi yang terjadi.

“Nah reformasi birokrasi menjadi kata kunci pertama dalam menghadapi situasi apapun. Dan covid-19 ini menjadi momentum sebenarnya untuk melihat birokrasi kita tetap tidak berubah, dari suatu rezim ke rezim, dari satu menteri ke mentri, birokrat kita adalah pemalas, copy-paste, menunggu, wait and see dan lain sebagainya,” kata Maman.

“Maka Ketika kita dihadapkan Covid yang betul-betul membutuhkan penanganan yang khusus, kita secara keseluruhan gagap,” imbuhnya.

Sedangkan faktor yang kedua, Maman menyebut kemarahan Presiden Jokowi disebabkan belum maksimalnya pendataan dan pemutakhiran data bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat terdampak Covid-19.

“Dari sisi lain kita melihat bahwa data kemiskinan penerima bantuan dan sebagainya masih acak adul dan amburadul. Dan ini yang saya sering katakan bahwa validasi data itu adalah tugas kedua dari seorang presiden setelah reformasi birokrasi,” kata dia

Maman menyebut hal ini tentu akan menjadi persoalan yang dapat berdampak terjadinya resensi ekonomi.

“Problemnya adalah ada satu orang yang bisa menerima beberapa bermacam bantuan sementara yang seharusnya mendapatkan bantuan tidak kebagian. Istilah saya ‘orang miskin baru’ banyak karena saya khawatir setelah menghadapi pandemi dan kita gagap akan terjadi resensi ekonomi,” jelasnya.

Faktor terakhir kemarahan Presiden Jokowi disebabkan lemahnya koordinasi dan komunikasi antar kementrian yang masih terdapat ego sektoral dalam penanganan Covid-19.

“3 point itu harus diperbaiki yang menurut saya menjadi salah satu sumbu dari kemarahan pak presiden, lalu tinggal presiden kita. Hak prerogatif ada di tangan presiden, apakah presiden itu mampu membuktikan kata-katanya untuk lalu memperbaiki kinerja dari Kementerian termasuk lembaga yang saya maksud tadi. Ini harus betul-betul dilihat,” pungkasnya.

Menkes Terawan Berpotensi Dicopot, Pengamat: Kalau Selamat Artinya Ada Faktor Lain
Halaman:
  • Penulis: Khairul Anwar

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita