Jitunews.Com
6 April 2020 11:44 WIB

Tantangan Pemerintah di Tengah Covid-19: Pemulung Butuh Air Bersih dan Pangan Layak Konsumsi

Air bersih merupakan komoditas komersial yang sulit didapatkan oleh orang-orang miskin dan kaum pengais sampah beserta keluarganya

Guna mempertahankan hidup pemulung mengais sisa-sisa makanan, sayuran, buah-buahan di TPA (BS/KPNas)

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)sangat cepat melalui kegiatan manusia. Riset yang dilakukan National Academy of Science (NAS, 2020) menunjukkan potensi penyebaran virus corona bisa melalui bersin, batuk dan saat orang berbicara atau saat bernafas. Riset itu juga menyebutkan bahwa virus corona bisa menyebar melalui udara, tidak hanya lewat tetesan (dropet) yang berasal dari batuk maupun bersin.

Selain itu, Covid-19 bisa menempel di permukaan sejumlah benda, termasuk yang sudah dianggap limbah atau sampah. The Journal of Hospital Infection menghasilkan 22 studi mengenai virus Corona bertahan di permukaan suatu benda. Pada stainless stell bertahan hingga 5 hari, bahan metal 5 hari, aluminium dan sarung tangan operasi 2-8 jam, kayu dank aca 5 hari, plastik 8 jam sampai 6 hari, kerta 4-5 hari, PVC 5 hari, kerami 5 hari.

Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) Bagong Suyoto menyoroti kemungkinan benda-benda tertempel Covid-19 yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, kemudian bercampur leachate dan air hujan. Menurutnya, air tersebut dipastikan dapat mencemari lingkungan, terutama tanah dan air. 



Warga Diminta Gunakan Masker Kain, IDI: Efektifitas Rendah, Akan Tetapi...

“Padahal air bersih sangat dibutuhkan oleh pemulung, contohnya. Salah satu kebutuhan pokok yang sangat diperlukan pemulung adalah air bersih. Air bersih menjadi barang yang semakin sulit didapatkan, meskipun hidup di pinggiran kota. Kenapa air bersih mahal bagi orang miskin? Air tersebut digunakan untuk minum, masak, cuci dan mandi,” kata Suyoto dalam keterangan yang diterima jitunews.com, Senin (6/4).

Suyoto menilai, air bersih merupakan komoditas komersial yang sulit didapatkan oleh orang-orang miskin dan kaum pengais sampah beserta keluarganya. Ia menyebut kondisi tersebut menjadi suatu tantangan berat bagi negara karena adanya anggapan tidak mempedulikan kebutuhan dasar orang-orang miskin dan pemulung.

“Apalagi pemukiman pemulung berada di kawasan hamparan sampah sudah jelas air yang dikonsumsi tiap hari sudah tercemar tinja (e-coli) dan logam berat seperti besi (Fe), timbal (Pb), seng (Zn), kadmium (Cd), dll (Bagong Suyoto, Buku Malapetaka Sampah, 2004). Sebab sampah yang dibuang ke TPST/TPA belum dipilah antara sampah organik, non-organik dan yang mengandung limbah B3 skala kecil. Mereka tak mempedulikan air yang dikonsumsi itu, yang penting bisa mempertahankan hidup. Mereka sudah pasrah pada tingkatan yang sulit dipahami oleh orang awam sekalipun. Anak-anak dan istri pemulung sudah pasrah, biar pun air comberan darii bekas galian tanah,” ujarnya.

“Inilah resiko yang harus dibayar pemulung. Bahwa hidup di tengah dan pinggiran hamparan sampah berarti adanya ancaman baik dari dalam, permukaan dan atas lahan, dimana ribuan keluarga pemulung bermukim di kawasan pembuangan sampah. Mereka dalam ancaman pencemaran air dalam tanah, permukaan tanah dan polusi udara,” sambungnya.

Suyoto pernah menggambarkan kehidupan pemulung dalam bukunya ”Potret Kehidupan Pemulung-Dalam Bayangan Kekuasaan dan Kemiskinan” (Bagong Suyoto, 2015). Di situ disebutkan, meskipun warga sekitar mendapatkan pelayanan air bersih dari sumur artesis atau sumur dalam (100-150 meter), tetapi pemukiman pemulung diabaikan. Artinya, pemulung tidak memperoleh suplai air bersih. Keluarga pemulung hanya mengandalkan sumur gali atau sumur panthek sedalam 10-12 meteran. Sumur gali dan sumur panthek itu sangat rentan terhadap rembesan air lindi baik pada musim hujan maupun kemarau. Pada musim penghujan sumur mereka terendam leachet, terutama gubuk-gubuk yang berada di areal rawan banjir.

“Yang penting bisa menikmati air. Bagi pemulung kondisi tersebut sudah puas. Kalau banyak menuntut dikatakan oleh para penguasa tidak tahu diri. Keluarga pemulung mengkonsumsi air seadanya, kotor dan tercemar leachet sudah menjadi obat mujarab yang dapat menghilangkan rasa haus. Perkara tidak bersih, tidak heiginis perkara belakangan. Jelas berbagai penyakit mengancam hidup mereka!” tegasnya.

Jokowi: Dulu Pakai Masker Hanya yang Sakit, Sekarang Semua yang Keluar Rumah Harus Pakai Masker

Halaman:
  • Penulis: Iskandar

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita