Jitunews.Com
19 Januari 2020 16:30 WIB
Dibaca 274 x

Strategi Milenials Bisa Hedon Tapi Tetap Melek Investasi

Simak ulasan selengkapnya

Era Modern yang memudahkan millenials untuk akses pasar investasi dan bisnis ()

Generasi Milenial atau biasa disebut milenials merupakan istilah yang sudah kerap kita dengar yang erat kaitannya dengan anak muda dengan segala kemajuan teknologi serta kemudahan-kemudahan yang tersedia. Dengan kemajuan teknologi dan segala kemudahan itulah yang membuat milenials menjadi generasi yang modern, selalu up to date, kritis terhadap fenomena sosial, bahkan membuat mereka mampu multitasking dalam kehidupan sehari hari.

Namun, dengan kehidupan “no gadget no life” yang disandang milenials ternyata menciptakan gaya hidup mereka yang cenderung hedon atau menghamburkan uang demi kepentingan media sosial semata. Sehingga tidak sedikit milenials yang di masa produktifnya minim pengetahuan tentang pentingnya tabungan atau investasi.

Sejumlah survey yang dilakukan dari rentang waktu 2017 – 2018 kepada sejumlah responden millennial menunjukkan rendahnya kesadaran ataupun kemauan milenials dalam berinvestasi. Salah satunya yaitu survei yang dilakukan oleh IDN Research Institute yang melibatkan 1.400 responden milenial dengan rentang usia 20-35 tahun di 12 kota besar di Indonesia memperoleh hasil yang cukup memprihatinkan dimana melalui survei tersebut tercatat bahwa hanya 10,7 persen dari pendapatan yang ditabung oleh milenial. Sedangkan 51,1 persen dari pendapatan digunakan untuk kebutuhan bulanan para milenial. Survei ini juga memaparkan bahwa minat generasi milenial terhadap investasi hanya sebesar 2 persen. Tidak heran keuangan millennials bisa dikatakan “berantakan”



Strategi Millenials Mengelola Keuangan Pribadi

Secara tidak langsung segala kemudahan ini yang membawa generasi milenial juga dikenal dengan predikat “no gadget no life”, cuek dengan pada keadaan sosial, hingga generasi instan.

Lantas gimana sih sebenernya mengelola keuangan yang baik?

Layaknya mengelola keuangan di sebuah perusahaan, diperlukan tahapan perencanaan yang matang dan disiplin pelaksanaan untuk dapat mencapai tujuannya. Dalam hal ini tujuannya adalah mengakomodasi perilaku hedon para milenial namun tetap mementingkan aspek investasi masa depan.

Pengelolaan keuangan terbaik untuk para milenial umumnya adalah menentukan pos-pos pengeluaran dari total pendapatan. Salah satu skema pengelolaan keuangan yang biasa digunakan yaitu strategi 50/20/30. Artinya dari awal milenial terima gaji langsung dimasukkan kedalam 3 pos yang berbeda dengan porsi masing-masing sebesar 50%, 20%, dan 30%. Mari kita bahas satu per satu pos-pos pengeluaran tersebut.

Pos Pertama dengan porsi 50% adalah alokasi untuk pengeluaran bulanan. Yang dimaksud pengeluaran bulanan disini adalah kebutuhan sehari-hari milenial dan termasuk juga di dalamnya anggaran untuk ngopi, nongkrong, dan shopping. Pos pengeluaran bulanan ini yang seringkali ditemui tidak disiplin dalam pelaksanaannya. Seperti milenial pada umumnya dimana ajakan nongkrong dan ngopi yang tak ada habisnya, belum lagi godaan diskon dimana mana. Namun, nyatanya dengan penerapan pos pengeluaran, secara psikologis akan mempengaruhi perilaku milenial dalam berkehidupan sehari-hari yang nantinya kebiasaan konsumtif akan dapat dikendalikan. Obstacle terberat pada pos ini adalah sulitnya menjadi disiplin pada awal penerapan karena strategi ini akan langsung mempengaruhi perilaku keseharian milenial. Sehingga tidak sedikit yang membuat pos-pos kecil untuk membagi porsi 50% ini. Contohnya dari alokasi pengeluaran bulanan ditentukan 60% untuk konsumsi sehari – hari, 20% nongkrong dan ngopi, sisanya 20% untuk shopping.

Pos Kedua dengan porsi 20% adalah alokasi untuk emergency fund atau dana darurat. Dana Darurat adalah alokasi yang jarang diperhitungkan tidak hanya oleh milenial saja namun juga di semua kalangan. Dana Darurat termasuk dana yang penting untuk antisipasi atas kejadian-kejadian ekstrem yang sulit dihitung kemungkinan terjadinya seperti PHK, bencana, resesi, dan lain sebagainya. Umumnya, dana darurat akan disimpan dalam bentuk cash atau tabungan, namun tidak selamanya harus dalam bentuk seperti itu, bisa juga disimpan dalam bentuk instrumen keuangan lain selama dapat dicairkan sewaktu-waktu. Besaran dana darurat sendiri menurut beberapa konsultan keuangan yaitu 6 hingga 8 kali pengeluaran bulanan. Artinya tidak selamanya porsi 20% pendapatan ini dialokasikan untuk dana darurat, dalam hal dana darurat milenial sudah mencapai 6 kali pengeluaran bulanan, untuk porsi 20% selanjutnya bisa dialokasikan untuk pos konsumsi, investasi, ataupun cicilan. Obstacle terberat dalam penerapan alokasi dana darurat untuk milenial adalah munculnya godaan untuk menggunakan uangnya untuk belanja konsumtif dengan justifikasi “toh, nanti akan gajian lagi”. Sehingga kembali lagi dengan syarat pengelolaan keuangan yang baik selain perencanaan yang matang yaitu disiplin pelaksanaan.

Pos Ketiga dengan porsi 30% adalah alokasi untuk investasi. Perlu disadari bahwa investasi adalah instrumen penting dalam pengelolaan keuangan karena berkaitan dengan rencana jangka panjang milenial untuk memperoleh sumber penerimaan selain gaji. Dengan berkembangnya teknologi saat ini sangat memudahkan milenial untuk mengakses kanal-kanal investasi yang tersedia di pasar. Dalam hal investasi banyak obstacle yang akan dihadapi oleh milenial seperti kurangnya pengetahuan akan pentingnya investasi di masa depan, kurangnya manajemen resiko dalam pemilihan instrument yang tepat sehingga membutakan milenial dari prinsip high risk high return.

Namun seharusnya dengan predikat “no gadget no life” yang disandang oleh milenial memudahkan mereka untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang investasi melalui internet.

Perlu diketahui bahwa besaran porsi diatas merupakan salah satu ilustrasi penerapan strategi pengelolaan keuangan sehingga tidak dapat diseragamkan untuk seluruh milenial, terlebih lagi kebutuhan masing-masing orang yang sangat beragam berikut dengan urgensinya masing-masing. Maka, milenial dapat memodifikasi porsi keuangan sesuai dengan prioritas kebutuhan yang dihadapi. Yang perlu ditekankan adalah pentingnya perencanaan keuangan dalam kehidupan modern seperti sekarang ini terlepas bagaimana skema pengelolaannya paling tidak memuat investasi dalam pembagiannya. Dan terakhir adalah disiplin pelaksanaan, karena terlepas bagaimanapun strateginya kalo milenials gak disiplin percuma aja kan?

So, buat milenials di luar sana, mari hedon dengan strategi, oke? Tetap semangat!

 

Oleh : Novian Restantiano / Mahasiswa DIV PKN STAN

Ditulis oleh: Novian Restantiano

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Sebuah Strategi Marketing: Menjadikan Idola K-Pop Sebagai Brand Ambassador
Halaman:

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita