Jitunews.Com
14 November 2019 12:08 WIB

21 Masjid BUMN Terpapar Radikalisme, PBNU: Disuruh Khotbah di Situ Aja Nggak Pernah

puluhan masjid di BUMN terindikasi terpapar paham radikalisme, faktanya PBNU tidak pernah diundang ke masjid tersebut

(indepedensi)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Marsudi Syuhud selaku ketua Pengurus Besar NU mengungkapkan ajaran radikalisme menyasar masuk ke tempat ibadah muslim di kawasan pemerintahan.

Hal tersebut diungkapkan dia dalam acara Mata Najwa yang tayang Rabu (14/11/19) malam. Acara yang mengusung tajuk "Bom Bunuh Diri: Kenapa Lagi" menguak beberapa fakta dan indikasi yang membuat penonton tercengang.

Dalam acara yang tayang Rabu malam itu, Najwa Sihab mengungkap data yang ditemukan oleh Perhimpunnan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat tentang adanya indilasi paham radikalisme telah menyebar ke 100 masjid areal pemerintahan. Dari paparan data itu, disebutkan 21 Masjid yang terkena incaran paham radikalisme ada di lingkungan BUMN.



Terkait Bom Bunuh Diri di Medan, Pengamat: Mereka Pendatang Baru yang Hanya Asal Berani

Aparatur Sipil Negara menjadi target

Kini, PNS atau ASN yang menjadi target pencucian otak dengan paham radikalime, hal tersebut diungkap oleh Marsudi Syuhud.

"ASN memang ditarget oleh mereka untuk didakwahi karena ASN kalau sudah banyak ikut mereka akan mudah," ucap Ketua PBNU.

Tentara juga menjadi target

Selain ASN, tentara yang hakikatnya mempunyai jiwa nasionalis tinggi juga ditarget. Hal tersebut sesuai data, karena dalam data "masjid pemerintahan terpapar radikalisme" berarti juga termasuk masjid yang ada di lingkungan militer.

"Tentara juga ditarget juga, kalau termasuk masjid-masjid negara, masjid-masjid BUMN ditarget sebagai dakwah mereka," jelas Marsudi dalam acara Mata Najwa.

PBNU tidak pernah diundang

Ungkapan itu memancing Nana (panggilan Najwa Sihab) untuk kembali bertanya tentang kontribusi PBNU terkait temuan mencengangkan itu.

"Dan kemana kiai-kiai NU, masak tidak bisa masuk ke masjid-masjid itu?" tanya Najwa.

PBNU tidak bisa berperan untuk menangkal radikalisme, sebab mereka tidak pernah diundang untuk masuk ke masjid pemerintahan tersebut.

"Diundang we ora pernah (Diundang saja tidak pernah), disuruh khotbah di situ aja nggak pernah karena mereka sudah bikin kelompok sendiri, kita-kita mau masuk ke situ susah," ungkap Marsudi Syuhud.

Masyudi juga menegaskan, paham yang berbahaya ini sudah terlanjur menyebar, radikalisasi juga sedang dalam proses sehingga harus menedesak pemerintahan agar menuntaskan isu ini.

Terkadit dengan temuan data masjid pemerintah terpapar radikalisme, dia menyarankan agar memilih khatib masjid untuk kawasan pemerintahan dengan asal organisasi Islam yang jelas.

"Untuk itu, ambilah dari Muhammadiyah, dari NU, dari Persis, dari organisasi-organisasi yang sudah jelas established, yang jelas nyata dan mudah diingatkan kalau ada anggotanya yang radikal," tandasnya.

Mahfud MD Sebut Satu Bomber Lainnya Kabur, Polisi: Masih Belum Dipastikan
Halaman:
  • Penulis: Gun-Gun

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita