Jitunews.Com
25 Oktober 2019 15:55 WIB

Gunakan GasMin, Industri Kecil di Sidoarjo Mampu Tingkatkan Omset Secara Efektif

simak penjelasannya

(esdm.go.id)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Batubara (Puslitbang Tekmira) Kementerian ESDM saat ini tengah mengembangkan GasMin dan sudah bisa diimplementasikan untuk Industri Kecil Menengah (IKM). Gasmin genarasi pertama dirintis pada tahun 2007 dan teknologinya terus disempurnakan menjadi Gasmin generasi kedua, yang lebih sederhana, baik dalam bentuk fisik maupun cara pengoperasiannya.

Dadan Kusdiana selaku Kepala Badan Penelitian dan Pegembangan Energi dan Sumber Daya Mineral telah menyerahkan dua unit GasMin yang berkapasitas 10 kg kepada Board of Director PT Minarak Brantas Gas, Husein. Gasmin tersebut langsung disumbangkan kepada IKM Telur Asin UD Adon Jaya dan IKM kerupuk.

Penyerahan gasmin hasil inovasi ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Minarak Brantas Gas, sebagai bentuk kontribusi perusahaan terhadap pengembangan ekonomi IKM.



Di Indramayu LPG Digunakan untuk Pengairan Sawah, Ini yang Dilakukan Pertamina

Pemilik Industri Kecil Menengah (IKM) telur asin UD Adon Jaya,Sulaiman, siang itu tampak sumringah. Dengan semangat ia menceritakan perubahan positif pada industri telor asin yang dikelolanya di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Dirinya mengaku setelah menggunakan GasMin (Gasifikasi Mini Batubara), kini proses pemasakan telur asin dengan variasi rasa udang, kepiting, dan ikan salmon yang menjadi andalan Sulaiman menjadi lebih cepat dan lebih efisien. Bahkan proses pemasakan telur tersebut bisa satu jam lebih cepat dibanding sebelum menggunakan Gasmin. Hal ini tentunya turut berimbas pada omzetnya yang mengalami peningkatan.

"Proses pemasakan telur asin sekarang menjadi lebih cepat satu jam. Pengoperasian alatnya cukup mudah dan menghasilkan sumber panas yang banyak. Rencananya mau saya manfaatkan untuk pengovenan juga," ungkap Sulaiman bahagia setelah GasMin berkapasitas 10 kg tersebut kini sah menjadi miliknya setelah diserahkan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana, pada Kamis (24/10).

Hal senada juga diakui oleh Muarofah. Pemilik IKM kerupuk tersebut juga merasa terbantu dengan GasMin yang diserahkan untuk IKM-nya.
"Sekarang memasak lebih cepat setelah menggunakan GasMin. Selisih waktunya cukup signifikan, sekitar 1/2 sampai 1 jam bila dibandingkan dengan kayu bakar," ungkapnya.

Muarofah menuturkan, pada proses memasak juga tidak ada asap yang muncul,sehingga tidak mengakibatkan ketel menjadi hitam.
"Ketel juga bersih, pengoperasiannya mudah, saya sudah bisa mengoperasikan sendiri," lanjutnya.

Seiring penetapan Puslitbang Teknologi menjadi Badan Layanan Umum pada tahun 2018, GasMin mulai dipasarkan secara komersial. Para penggunanya antara lain IKM Tempe Wonosari dan industri Batik di Tasikmalaya. Pada Maret 2019, perusahaan asal Korea, PT Uvision Daehyup Indonesia (UDI) telah menggantikan sumber energi mesin pengering cocofiber sebagai oven (dryer) dengan GasMin kapasitas 30 kg. Tingkat efisiensi GasMin pada industri ini bahkan mencapai sekitar 40 hinhga 50 persen.

Pastikan Pasokan BBM dan LPG Cukup Jelang Idul Adha, Pertamina Buka Posko Siaga
Halaman:
  • Penulis: Tino Aditia

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita