Jitunews.Com
16 Juni 2019 10:36 WIB

Bambang Widjojanto: Selama Ini MK Itu Kayak Dijebak...

Ada apa dengan MK?

Anie dan Bambang Widjojanto sedang berbincang santai membahas tentang politik uang Pilkada DKI, minggu (16/4/2017). (Dok.Heru Muawin Jitunews)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pasca sidang perdana sengketa hasil Pilpres 2019, Ketua Tim Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto (BW), akhirnya buka suara.

Seperti dilansir Tribunnews.com, Minggu (16/6), Bambang tampak diwawancarai pada channel YouTube Macan Idealis.

Baca juga: Tidak Seperti Sabo dan Luffy, Ace Tidak Memiliki Sosok...



Profesor Tim Lindsey Kecewa, TKN: Asal Saja Menyampaikan Argumentasi...

"Pak, ada perkembangan apa, gimana setelah selesai sidang pertama apa yang menarik Pak? Yang kira-kira perlu teman-teman netizen ini tahu?" tanya pemilih channel YouTube Macan Idealis, Vasco Ruseimy.

Mantan Wakil Ketua KPK itu pun menjelaskan secara detail mulai dari isi persidangan hingga hal-hal terkait yang diungkap di MK.

"Sidang itu berlangsung kira-kira hampir 3-4 jam khusus untuk membaca permohonan saja dengan jeda salat Jumat dan itupun sebenarnya tidak semuanya yang dalam permohonan kita itu kita bisa bacakan dengan agak jelas dan tuntas karena kita dikejar waktu. Yang kedua, sebenarnya yang paling menarik," jawab Bambang Widjojanto.

"Bagian yang pertama adalah kita mempunyai ruang yang cukup menjelaskan kombinasi antara permohonan yang berisi kualitatif dan permohonan yang berisi kuantitatif. Jadi sebenarnya selama ini MK itu kayak dijebak, disandera hanya mengatasi persoalan-persoalan yang sifatnya penyelesaian sengketa saja, tapi hari ini MK cukup terbuka membuka ruang dan kita berhasil mendorong ini ada kecurangan, ada 5-6 pilar kecurangan itu," lanjut Bambang.

"Kecurangan-kecurangan itu menyebabkan suara yang dihasilkan itu tidak murni berdasarkan proses yang jujur, adil dan luber. Nah itu sebabnya ketika konstruksi kuantitatif dikemukakan, dia memang berasal dari sebuah kecurangan," jelasnya.

Selanjutnya, BW melanjutkan dengan menjelaskan bagian kedua yang sebelumnya ia anggap menarik.

"Nah itu bagian yang pertama. Jadi kita berhasil menjelaskan menurut saya bahwa ada kecurangan-kecurangan memperoleh berkaitan dengan penghitungan suara. Yang kedua, yang juga menarik untuk dikemukakan ada perdebatan teknis hukum ini yang mau dipakai yang mana, mau dipakai yang permohonan tanggal 24 (Mei) atau permohonan yang sudah diperbaiki tanggal 10 (Juni)," kata BW.

"Majelis Hakim dengan lugas menyatakan bahwa yang diperiksa adalah apa yang dibacakan di pengadilan. Kalau para pihak merasa bahwa dia harus menjawab pilihannya itu diserahkan pada dia, silahkan kalau mau jawab yang tanggal 24 Mei, yang jawab 10 Juni ya silahkan."

"Tapi saya menduga persoalan itu dikemukakan walaupun sudah dengan tegas dengan MK mengatakan yang diperiksa adalah yang dibacakan di persidangan, saya mengetahui para pihak termohon dan para pihak terkait itu akan kesulitan untuk menjelaskan karena cover area-nya itu sekarang ada kombinasi dan kuantitas. Jadi dengan begitu cover area-nya tambah banyak dan problemanya tambah sulit," terangnya.

"Kebayang enggak sih ada problem masalah di IT di situ yang dia harus jelaskan, IT itu jadi instrumen untuk memfabrikasi kebohongan. Itu bagian kedua yang menurut saya terbaik," pungkasnya.

KPU Akhirnya Ungkap Perbedaan Situng dan Penghitungan Suara Manual! Bedanya adalah...
Halaman:
  • Penulis: De Sukmono

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita