Jitunews.Com
26 April 2019 09:08 WIB

Kapal Ternak Sebagai Wujud Implementasi Program Tol Laut

Provinsi NTT sebagai gudang ternak sapi, kerbau dan babi membutuhkan kontinuitas ketersediaan bahan pakan ternak yang cukup sepanjang tahun.

Sapi lokal dari NTT yang dikirimkan ke Jakarta melalui Kapal Ternak KM Camara Nusantara I. (JITUNEWS/Siprianus Jewarut)

Pemanfaatan Muatan Balik Kapal Khusus Ternak

Pemanfaatan Muatan balik masih belum dioptimalkan, mengakibatkan biaya operasional/tarif yang tinggi. Hal tersebut perlu dikembangkan lebih baik lagi dengan melibatkan pemerintah daerah serta pelaku usaha antar wilayah sehingga tol laut mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi antar wilayah.

Keberadaan kapal khusus ternak dapat dimanfaatkan pada arus balik untuk mengangkut bahan pakan ternak dari pulau Jawa ke NTT. Biaya angkutan pakan buatan pabrik pun jika diangkut kapal ternak jauh lebih murah karena memanfaatkan arus balik dengan tarif muatan relatif murah.



Resmikan Museum Pertanian, Mentan: Belajar dari Masa Lalu…

“’Hal ini tentu mendukung upaya meminimalisir penyusutan bobot hidup ternak salah satunya dari sisi kebutuhan pakan ternak selama pelayaran. Penyusutan bobot hidup ternak selama pengangkutan dinilai dapat menurunkan nilai ekonomi ternak sehingga kompensasi kerugiannya dibebankan pada penambahan harga tiap kg bobot hidup ternak,” ungkap Fini.

Fini menyebutkan, Provinsi NTT sebagai gudang ternak sapi, kerbau dan babi membutuhkan kontinuitas ketersediaan bahan pakan ternak yang cukup sepanjang tahun.

Namun, pada musim kemarau ketersediaan bahan pakan ternak di Provinsi NTT cenderung terbatas, untuk mengantisipasi kekurangannya perlu dipasok bahan pakan ternak dari daerah sumber pakan ternak. Sumber bahan pakan ternak cukup melimpah di beberapa daerah di Pulau Jawa sehingga bahan pakan ternak dapat dimuat di Pelabuhan yang disinggahi kapal.

“Oleh karena itu wilayah NTT sebenarnya masih sangat membutuhkan pasokan bahan pakan ternak dari wilayah lain. Pakan complete feed buatan pabrikan harganya relatif mahal karena didatangkan dari Surabaya dengan biaya pengangkutan yang tinggi,” pungkas Fini.

Kementan Gelontorkan Rp 2,5 Triliun untuk Implementasi Program Serasi
Halaman:
  • Penulis: Riana

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita