21 April 2018 14:44 WIB
Dibaca 153 x

Yuk, Manfaatkan Limbah Industri Meuble Menjadi Arang Tradisional!

Untuk membuat arang kayu bisa menggunakan segala macam jenis kayu asalkan bukan kayu randu.

Melonjaknya harga gas LPG memberikan peluang bagi warga desa Godo Kecamatan Winong Kabupaten Pati untuk mengembangkan usaha membuat arang tradisional. ()

Kelangkaan dan melonjaknya harga bahan bakar gas LPG yang menjadi andalan para ibu rumah tangga untuk kebutuhan memasak sehari-hari, ternyata membawa berkah tersendiri bagi pembuat arang tradisional Desa Godo Kecamatan Winong Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Selain memiliki potensi wisata sumber mata air yaitu sendang Tambar dan sebuah makam tua yang dikeramatkan warga sekitar, Desa Godo juga memiliki potensi home industri meuble dan pembuatan arang kayu. Saat ini arang kayu masih cukup diminati masyarakat. Hal ini didukung naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), yang tentunya diikuti pula naiknya harga gas LPG.

Salah satu home industri pembuatan arang yang menjadi binaan Sertu Nur Khoyyum Babinsa Kodim Pati adalah milik pasangan suami istri Suprih (30) dan Ernawati (27) warga RT.07 RW.01 Desa Godo Kecamatan Winong Kabupaten Pati yang telah membuat arang selama 2 tahun terakhir ini. Tentunya sudah banyak pundi-pundi rupiah yang telah dihasilkan dari produksi arangnya.


Mau Buka Restoran? Buang Jauh Pikiran Ini!

Keluarga Suprih menjelaskan, usaha ini berawal dari terhimpitnya masalah ekonomi kala itu. Dalam waktu yang bersamaan ada sosialisasi dari Babinsa Kodim Pati tentang membuat bahan bakar alternatif yaitu pembuatan arang tradisional.

"Hal itulah yang membangkitkan semangat keluarga kami untuk mencoba membuat arang kayu yang sudah disosialisasikan bapak Babinsa kepada warga desa Godo," jelasnya.

Suprih juga mengatakan, untuk membuat arang kayu bisa menggunakan segala macam jenis kayu asalkan bukan kayu randu, karena kayu randu teksturnya lunak dan mudah lapuk. Tentunya akan sulit menghasilkan arang kayu yang bagus,"katanya.

Sertu Nur Khoyyum selaku pembina warga menjelaskan, untuk mendapatkan kayu bahan baku membuat arang kayu, keluarga Suprih membeli limbah kayu dari perusahaan meuble yang tentunya dengan harga yang murah. Karena dilingkungan rumahnya banyak indusri rumahan pembuat kerajinan meuble.

"Keluarga Suprih memasarkan produk arangnya sangatlah mudah, tidak susah-susah membawa ke pasar, tapi tengkulak langsung ke rumahnya. Tengkulak membeli produk arangnya seharga tiga puluh lima ribu sampai empat puluh ribu rupiah per satu karung. Dalam sekali pembakaran biasanya menghasilkan sepuluh karung. Dan sebulan bisa bisa membakar sepuluh kali. Berarti dalam satu bulan bisa menghasilkan arang siap jual sebanyak seratus karung. Tentunya omset Suprih dalam satu bulannya mencapai jutaan rupiah," jelasnya. [Wono/Jasm]

Ditulis oleh: Catur Wono

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Pelatihan Membatik Bagi Masyarakat Desa
Halaman:

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita