Jitunews.Com
16 April 2018 18:49 WIB

Putusnya Pipa Pertamina di Teluk Balikpapan karena Jangkar Kapal

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut terungkap bahwa putusnya pipa minyak milik Pertamina adalah karena Kapal MV Ever Judger menurunkan jangkar tepat di jalur pipa milik Pertamina.

Armada kapal Pertamina untuk mempercepat proses pembersihan Teluk Balikpapan. (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Komisi VII DPR RI menyoroti kejadian putusnya pipa minyak milik Pertamina di Teluk Balikpapan beberapa waktu lalu. Komisi VII DPR RI hari ini, Senin (16/4), menghadirkan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, Menteri LHK Siti Nurbaya, dan Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Agus Purnomo untuk dimintai keterangannya soal penyebab putusnya pipa pertamina di dasar laut tersebut.

Ketua Komisi VII Gus Irawan Pasaribu menegaskan bahwa insiden putusnya pipa minyak Pertamina itu menjadi perhatian DPR dan investigasi akan terus berlangsung hingga tuntas.

"Komisi VII meminta penjelasan tata kelola lalu lintas laut yang ada objek vital strategis dan bagaimana koordinasinya dengan instansi yang terkait," kata Gus Irawan di Jakarta, Senin (16/4).



Pertamina Berikan Bantuan untuk Warga Terdampak Musibah Ceceran Minyak Teluk Balikpapan

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut terungkap bahwa putusnya pipa minyak milik Pertamina adalah karena Kapal MV Ever Judger menurunkan jangkar tepat di jalur pipa milik Pertamina.

"Kapal ini diperkirakan jangkarnya lolos. Ada miskomunikasi nakhoda sama penjaga jangkar. Jadi jangkar melorot," ujar Agus Purnomo.

Sementara keterangan dari Kapolda Kalimantan Timur Brigjen Pol Priyo Widyanto mengamini keterangan dari Agus Purnomo. Kata Priyo, saat ini pihaknya masih terus melakukan penyelidikan atas insiden itu. Dugaan awal yang ditemukan oleh polisi adalah putusnya pipa minyak di Teluk Balikpapan karena jangkar kapal.

"(Kami) menemukan ada serpihan seperti bekas benturan semen dan kawat. Namun masih menunggu laporan dari lab forensik," kata Priyo.

Selain itu, Polda Kaltim yang dibantu Pertamina juga bakal mengangkat pipa yang putus untuk kepentingan penyelidikan.

Di tempat yang sama, Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, menjelaskan mengenai kondisi pipa yang putus di Teluk Balikpapan telah sesuai standar dan spesifikasi teknis sehingga dalam keadaan layak operasi saat kejadian.

“Pipa crude dengan ketebalan 20 inch yang putus terkena jangkar kapal di Teluk Balikpapan telah sesuai dengan standar ASME/ANSI B 31.4 dan spesifikasi teknis, sehingga dalam keadaan layak operasi saat kejadian," pungkas Arcandra.

Saat ini, lokasi putusnya pipa juga telah ditetapkan menjadi daerah Obyek Vital Nasional (Obvitnas) untuk melindungi instalasi, kapal-kapal, alat-alat lain terhadap gangguan pihak luar, dan menurut PP 17 Tahun 1974, di dalam daerah terlarang ini semua orang, kapal dan lain-lain sejenisnya dilarang memasukinya.

“Instalasi Kilang RU V termasuk pipa penyalur minyak diameter 20 inch telah ditetapkan sebagai Obyek Vital Nasional (Obvitnas), dan semua orang dan sejenisnya (kapal) dilarang melewatinya," Jelas Arcandra.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR RI, Mukhtar Tompo, menilai, Pertamina adalah korban dari insiden kebocoran pipa minyak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.

Menurutnya, akibat kelalaian yang dilakukan oleh Kapal MV Ever Judger karena menurunkan jangkar seberat 12 ton di kawasan terlarang, maka Pertamina telah mengalami kerugian kurang lebih sebesar 85.000 barel.

“Seharusnya sebagai objek vital nasional, kapal dilarang membuang sauh dalam radius 1.750 meter,” ujar Mukhtar saat Rapat Kerja Komisi VII DPR RI dengan Kementerian ESDM dan Kementerian LHK di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (16/4).

Lebih lanjut, Mukhtar mengapresiasi atas tanggung jawab dari Pertamina terhadap insiden bocornya pipa minyak di Teluk Balikpapan tersebut. (Vic/PW6)

 

Bos Pertamina Sowan ke Keluarga Korban Tumpahan Minyak Balikpapan
Halaman:
  • Penulis: Vicky Anggriawan

Baca Juga

 

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita