14 Januari 2018 15:19 WIB

Kasus Fredrich Bukan Kriminalisasi, ICW: Kalau Sesuai Etika Pasti Tak Langgar Hukum

ICW mengatakan sejak tahun 2015 hingga saat ini ada 22 advokat yang terjerat UU Tipikor Fredrich Yunadi (istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COMIndonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan sejak tahun 2015 hingga saat ini ada 22 advokat yang terjerat UU Tipikor, termasuk Fredrich Yunadi (FY).

Diperiksa KPK, Achmad Rudyansyah: Tidak Ada Pemesanan 1 Lantai RS

"Berdasarkan catatan ICW sejak 2005 paling tidak ada 22 orang termasuk FY pernah dijerat menggunakan UU Tipikor. Ada 16 advokat dijerat karena melakukan suap-menyuap, 2 dijerat karena memberikan keterangan tidak benar, 4 orang karena menghalang-halangi penyidikan perkara korupsi. Kasus yang melibatkan 22 advokat tersebut mayoritas ditangani KPK sebanyak 16, 5 orang oleh kejaksaan dan 1 orang oleh kepolisian," kata Peneliti ICW, Lalola Easter di Kantor ICW, Jakarta Selatan, Minggu (14/1).

ICW menilai penangkapan Fredrich bukanlah bentuk kriminalisasi untuk profesi advokat. Menurutnya, jika Fredrich menjalankan profesinya sesuai dengan kode etik pasti dia tidak akan melanggar hukum. 


Fredrich: KPK Ingin Habisi Profesi Advokat

"Ada beberapa poin bahwa kalau yang bersangkutan (Frederich Yunandi) sudah berjalan di etika yang baik besar kemungkinan tidak melawan hukum di situ. Jadi manakala ada tindak pidana itu ada pelanggaran etik lebih dulu. Ada pelanggaran advokat berdasarkan etik yang dimilikinya," kata Laola.

Koordinator Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Julius Ibrani juga mengatakan hal yang sama, yakni tidak ada kriminalisasi dalam kasus Fredrich.

"Ini bukan kriminalisasi. Mahkamah Konstitusi jelas memberikan batasan berdasarkan hukum, jika ia melanggar hukum silakan diproses. PERADI tidak berhak meminta apapun ke KPK," kata Julius.

Fredrich Yunadi Temani Novanto Mendekam di Rutan KPK

Penulis : Aurora Denata

Dapatkan update berita Jitunews.com via Email, klik di sini!


Komentar
Baca Juga
Berita Terkait
Rekomendasi