12 Januari 2018 17:00 WIB

Obat Herbal Tidak Bisa Atasi Difteri, Harus Vaksin

Tiga negara yang pakar obat herbal pun seperti China, India, dan Amerika Latin mengakui bahwa obat herbal tak mampu mengatasi difteri, harus menggunakan vaksin

Ilustrasi, vaksin palsu. (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COMKLB (Kejadian Luar Biasa) difteri dinilai sangat berbahaya karena menimbulkan kematian. Maka dari itu, vaksin sangat diperlukan agar terhindar dari penyakit berbahaya tersebut.

"Mengancam nyawa yg mengidapnya juga bagi yg terkena sebaran bakterinya, karena itu harus ditangani sefera dengan vaksin. Tidak cukup dengan obat, apalagi obat herbal," kata Sekretaris Satgas Imunisasi IDAI (Ikatan Dokter Anak), Soedjatmiko dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 di Ruang Serbaguna Roeslan Abdulgani, Kantor Kemenkominfo, Jakarta Pusat, pada hari Jumat (12/1). 

Ia menambahkan bahwa tiga negara yang pakar obat herbal pun seperti China, India, dan Amerika Latin mengakui bahwa obat herbal tak mampu mengatasi difteri, harus menggunakan vaksin.


Kasus Difteri Menurun, Menteri Nila Moeloek Perintahkan Imunisasi Difteri Jalan Terus

Soedjatmiko menjelaskan difteri sangat mudah menular, merusak tenggorokan, dan kerusakan itu menumpuk di tenggorokan berupa membran putih tebal, dan menyumbat saluran pernapasan. 

"Maka dari itu nanti akan berdampak tidak dapat bernafas. Yang kedua bakteri difteri itu mengeluarkan racun. Lalu racun akan menyebar yang salah satunya akan menyerang otot jantung. Maka jantung akan rusak. Itu bisa menyebabkan kematian," jelasnya.

Ia melanjutkan, beberapa pengalaman pada tahun 2008 atau 2012, sebenarnya difteri sejak 80-an, selalu ada. Tapi ada fluktuasinya.

"Kini, terjadi lagi dalam KLB. Angka kematian juga tinggi, sehingga kita harus berusaha mencegah perluasan dampaknya. Dalam kasus penyampajan kita bayangkan itu anak kita sendiri. Ini ada seuatu yang mengancam keluarga kita sendri," ujarnya.

Soedjatmiko menyebut ada dua upaya pencegahannya. "Pertama, semua yang tersangka Difteri harus segera diperiksa, diobati jika betul ada kumannya segera dimatikan, racunnya dinetralisir dengan obat," tukasnya.

Langkah selanjutnya adalah semua orang membuka mulut anaknya, apakah di tenggorokannya ada lapisan putih yang tebal. Kalau ada, segera di bawa ke dokter, atau Puskemas terdekat untuk diperiksa apakah itu difteri atau bukan.

Selain itu, semua tenaga kesehatan yang merawat pasien itu harus diperiksa secara periodik, tertular atau tidak, keluarga pasien tersebut juga harus divaksin dan mendapat antibiotik, dengan tujuan jangan sampai menjalar ke yang lain.

Di sekolah, gurunya dan siswanya juga diperiksa semua. Kemudian juga di vaksin. Itu langkah pertama, berusaha membatasi jangan menyebar kemana-mana. Langkah kedua dengan ORI (Outbreak Response Immunization). Mereka yang tidak terlibat yang bukan pasien, juga harus dilindungi dengan memberikan tambahan suntikan tiga kali, walaupun imunisasinya sudah lengkap.

"Yaitu sebelum masuk SD kalau bisa sudah empat kali. Saat SD ada program BIAS, itu juga mendapatkan vaksin yang ada D-nya," ujarnya.

Prinsipnya sebelum lulus SD harus sudah mendapatkan empat lagi. Jadwal imunisasi pun luar biasa. Kalau ada kantong-kantong kumpulan anak anak yang kekebalanya rendah, maka akan bisa menular. Minimal satu kali imunisasi. Bagi mereka yang lahir sebelum tahun 1978, sebaiknya tiga kali vaksinasi lagi agar tidak tertular bakterinya.

"Ada yang betul betul karena ketidak-tahuan. Maka di sinilah peran media massa diperlukan. Untuk memberikan dan menyebarkan info yang benar," tegasnya.

Sementara yang anti vaksin hanya beberapa orang saja. Soedjatmiko menambahkan bahwa ada segelintir orang juga yang menyebarkan hoax kalau vaksin ini berbahaya.

"Padahal jika vaksin berbahaya tidak mungkin 136 negara menggunakan vaksin Bio Farma. Karena di negara itu ada badan-badan yang mengawasi imunisasi," terang Soedjatmiko.

Sebaiknya, Jangan Buang Air Kecil Sebelum Bercinta
Halaman:
  • Penulis: Aurora Denata

Penulis Suara Kita