Jitunews.Com
11 Januari 2018 20:33 WIB
Dibaca 43426 x

Idlib Memanas, 13 Drone Diduga Milik AS dan Israel Meledak di Pangkalan Militer Rusia

Serangan 13 drone ke pangkalan militer Rusia di Humeimim Suriah pada tanggal 5-6 Januari lalu berhasil menewaskan 2 tentara Rusia dan melukai 7 lainnya. Sebagian besar mortar yang ditembakkan dari drone berhasil ditahan oleh pertahanan udara Rusia...

()

Serangan 13 drone ke pangkalan militer Rusia di Humeimim Suriah pada tanggal 5-6 Januari lalu berhasil menewaskan 2 tentara Rusia dan melukai 7 lainnya. Sebagian besar mortar yang ditembakkan dari drone berhasil ditahan oleh pertahanan udara Rusia.

Serangan tersebut membuat pasukan Suriah, Iran dan Rusia “mengamuk” dan menuju Idlib. Kemajuan besar dicapai yang membuat pasukan Suriah semakin dekat ke Airbase Abu Zuhur, salah satu pangkalan udara militer terbesar di Utara Suriah yang berjarak hanya 40 km dari jantung kota Idlib.

Dari 13 drone yang menyerang ke pangkalan militer Rusia, 3 diantaranya berhasil diturunkan dengan selamat oleh militer Rusia. Investigasi terhadap 3 drone tersebut cukup mengejutkan militer Rusia, setidaknya bisa kita simpulkan beberapa hasil investigasi:



Meski Hebat, Iran Hanya Nephew yang Kadang Tak Berdaya terhadap Uncle Sam

Pertama: Drone tersebut adalah buatan negara yang memiliki kemampuan teknologi yang sangat tinggi, karena drone itu memiliki kemampuan mengontrolnya dari jarak yang cukup jauh serta keakuratan tembakan rudalnya, hal itu menimbulkan kekhawatiran Moskow.

Kedua: Sampai saat ini, hanya dua negara yang memiliki teknologi dan memproduksi drone jenis ini, yaitu AS dan Israel.

Ketiga: Drone dan mortir-mortir tersebut terdeteksi take off dari kota Idlib, yang saat ini dikuasai oleh kelompok Tahrir Sham, sebelumnya disebut Jabhat Al Nusra.

Keempat: Radar Rusia mendeteksi adanya pesawat mata-mata AS yang terbang di atas wilayah Humeimin dan Tartous selama lebih dari 4 jam pada ketinggian 7 ribu meter pada malam terjadinya serangan drone.

Kelima: Serangan ini disinyalir dalam rangka upaya AS untuk mendirikan kantong Kurdistan di Utara Suriah sampai ke laut Mediteranian. Jadi, serangan ini adalah “peresmian” proyek oleh AS dan juga warning kepada Rusia, Iran, Turki dan Suriah.

Presiden Erdogan sangat menyadari situasi sulit ini, di satu sisi harus berhadapan dengan proyek Kurdistan yang diback-up oleh AS, di sisi lain pasukan Suriah yang didukung Iran dan Rusia semakin mendekati Idlib. Apabila Idlib dikuasai oleh pemerintah Suriah, maka dapat dipastikan Turki harus angkat kaki dari Suriah, karena pasukan oposisi yang didukungnya selama ini akan tinggal sejarah, seperti FSA, Ahrar Sham dan lainnya.

Kemlu Turki selama 3 hari terakhir sibuk memanggil Kepala Perwakilan AS, Iran dan Rusia di Ankara. Kemlu Turki memprotes dukungan AS terhadap Kurdi kepada Charge d’ affaires AS di Ankara, sementara Dubes Rusia dan Iran dipanggil karena kebijakan pemerintah Rusia dan Iran yang mendukung serangan pasukan Suriah ke Idlib, yang mana sama-sama diketahui bahwa Idlib merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam Zona De-eskalasi militer sesuai dengan keputusan Astana.

Kemungkinan dan potensi bentrok Rusia dan AS di Suriah karena serangan drone ke Humaimin semakin besar, baik secara langsung maupun proxy. Para pengamat militer memprediksikan “revenge” Rusia akan terjadi dengan scenario berikut:

Pertama: Rusia akan melakukan Invasi besar-besaran ke Idlib dan menghabisi semua kelompok oposisi, khususnya Front Tharir Sham yang diback-up oleh Turki, dan mengembalikan Idlib ke pangkuan Damaskus.

Kedua: Rusia akan melancarkan serangan ke base pasukan AS di Suriah atau Irak melalui milisi pro Suriah, Iran atau Rusia yang ada di Kawasan. Scenario yang sama pernah dilakukan oleh milisi Hibzullah dan Iran dalam insiden “Beirut Barracks Bombings” tahun 1983 yang menewaskan 241 orang marinir AS serta 58 orang tentara Perancis.

Ketiga: Rusia akan meminta Iran untuk mendeploy senjata canggih dan drone kepada Taliban di Afghanistan untuk menyerang base militer AS, seperti yang dilakukan Iran kepada Hizbullah dan Hamas. Setidaknya terdapat 7 ribu pasukan AS dan 7 ribu pasukan NATO di Afghanistan yang dapat dijadikan target.

Turki adalah pihak yang paling rugi dengan perkembangan yang terjadi di Idlib. Kalau pasukan Turki memutuskan untuk menghadang pasukan Suriah di gerbang Idlib, artinya Turki akan berhadapan dengan pasukan Suriah, Rusia dan Iran, cukup berat. Kalau Turki benar-benar melaksanakan rencananya untuk menyerang Kurdi di Afrin dan Membej Utara Aleppo, Turki akan berhadapan langsung dengan pasukan AS, dan itu tidak baik.

Untuk saat ini, Turki sedang dalam posisi tidak bisa melepaskan hubungannya dengan “The Last Gunslinger”. "The Last Gunslinger" pun punya pertanyaan, “Drone yang take off dari Idlib itu menyerang airbase Rusia di Humeimim atas persetujuan Turki atau tidak?”, Kalau “Iya”, maka eskalasi ketegangan Rusia-Turki akan terulang seperti pasca penembakan Sukhoi dua tahun lalu. Saat itu, Erdogan masih punya Obama, hari ini Erdogan sedang “cold war” dengan Trump.

The Sultan di depan pilihan sulit. Memanggil Kepada Perwakilan AS, Rusia dan Iran untuk protes tidak cukup, Turki harus segera memutuskan memihak ke Rusia atau AS. Karena netral berarti sebagian besar pengaruhnya di Irak dan Suriah akan berakhir.

Biarlah waktu yang menjawab.

Ditulis oleh: Menulis Sampai Baik

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Bukan Transgender! Tapi Hewan Ini Punya Kemampuan Ganti Kelamin
Halaman:

Baca Juga

 

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita