27 Desember 2017 16:03 WIB
Dibaca 1273 x

Mau Buka Restoran? Buang Jauh Pikiran Ini!

Berbisnis restoran tak semudah membalikkan telapak tangan.

Ilustrasi restoran (whatsupsi.com) ()

Punya restoran besar dan ramai pengunjung pasti jadi dambaan para pengusaha yang bergelut di dalamnya.

Namun dalam kenyataannya, berbisnis restoran tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan banyak sekali calon pengusaha restoran yang punya pemikiran (anggapan) salah tentang bisnis ini.

Dikutip dari buku 'Formula Sukses dalam Bisnis Restoran' karya M. Torsina, berikut beberapa pemikiran salah tersebut:


Serunya Kuliner Ria Sambil Berkeringat di Sore Hari
  • Saya suka jajan dan mencoba segala jenis restoran dan menu.
  • Saya tahu makanan-makanan yang disenangi orang.
  • Orangtua dan keluarga selalu mendorong saya untuk berbisnis restoran.
  • Ipar saya pintar memasak, dan ia akan dijadikan koki restoran saya.
  • Saya mendapat resep rahasia dari sebuah restoran yang sukses di Surabaya, dan saya ingin membuka restoran sejenis di Jakarta.
  • Saya tergoda mengapa belum ada orang yang membuka jenis restoran yang dari dulu saya mimpikan.
  • Saya akan membuka restoran yang mengkhususkan diri dalam penyajian.
  • Semua orang suka masakan Betawi, dan saya ingin mendirikan restorannya.
  • Saya mampu bersaing soal mutu masakan dengan harga yang jauh lebih ekonomis.
  • Saya yakin mengelola restoran sama saja dengan bisnis lainnya. Saya telah sukses di bisnis elektronik, jadi saya pasti bisa bisnis restoran.
  • Saya senang barbekyu. Mengapa hobi ini tidak 'direstorankan'.
  • Teman saya kurang cerdas, tetapi bisa menghasilkan rata-rata Rp 1 juta sehari. Jika ia bisa, saya lebih bisa.
  • Mitra bisnis saya baik dan jujur, jadi kami bisa saling percaya dan rukun dalam pembagian kerja dan keuntungan.
  • Saya punya banyak teman dan relasi, dan mereka bisa saya kerahkan untuk mendukung restoran saya.

Nah, jika beberapa alasan di atas adalah motivasi utama anda berbisnis restoran, dan sampai di situ saja, maka selamat! Selamat karena anda akan menghadapi masalah sejak awal restoran dibuka.

Mengapa?

Sebab alasan-alasan di atas hanya didasarkan pada asumsi pribadi yang tidak didukung pemahaman, pengalaman, penelitian, dan upaya manajemen untuk mencari dan memperbesar peluang sukses.

Dalam bukunya itu M. Torsina menjelaskan bahwa semua alasan di atas hanya terpusat 'kesan' yang masih mentah dan belum menjadi peluang usaha, serta belum mampu bertahan menghadapi persaingan pasar yang kejam.

'Kesan' indah itu masih akan dihadapkan pada realitas peluang, yang merupakan pintu masuk ke dalam medan pertempuran yang sesungguhnya.

Lebih lanjut, M. Torsina juga menganjurkan para calon pengusaha restoran agar lebih fokus dalam memikirkan peluang daripada sekedar percaya dengan 'kesan'.

Di dunia usaha, ada tiga peluang yang bisa diaktifkan untuk mencapai kesuksesan:

O-Spotting (Mencermati Peluang)

Misalnya adalah ide membuka restoran baso (yang anda kuasai) di tempat di mana hanya ada penjual sate dan baso pikulan yang sukses.

O-Seeking (Mencari Peluang)

Misalnya, anda sering melihat Rumah Makan Padang tradisional yang terlalu ribet dengan penyajian piring. Juga kurang higienisnya sisa makanan pada piring. Kekurangan itu bisa melahirkan ide brilian untuk Rumah Makan Padang, tetapi dengan pelayanan yang berbeda untuk pelanggan sasaran yang memerlukan suasana lebih tenang dan elite, misalnya kalangan profesional, turis asing, pasangan kencan, dan orang-orang yang ingin mengadakan event khusus seperti ulang tahun, promosi jabatan, arisan, dan lainnya.

O-Building (Membangun Peluang)

Yaitu membangun konsep strategi dengan menerobos tradisi dan hambatan, untuk memenuhi selera dan kebutuhan dari segmen konsumen tertentu yang belum terjangkau.

Berikutnya adalah penentuan jenis restoran apa yang mau anda buka. Pada dasarnya semua sah-sah saja. Tapi ingat, sesuaikan dengan kreativitas dan peluang yang anda incar.

Restoran Keluarga

Mementingkan hidangan sehari-hari dengan varian menu yang banyak dan cocok bagi keluarga. Suasananya ramah dan bersahabat, namun pelayanan dan dekorasinya cenderung sedang-sedang saja.

Restoran Cepat Saji

Menunya agak terbatas, dekorasi warna-warna terang. Harga tidak mahal, mengutamakan banyak pelanggan.

Kafetaria

Metodenya swalayan dengan menu agak terbatas seperti yang sering disajikan di rumah. Harga ekonomis, biasanya sasaran pelanggan adalah orang-orang yang memang memiliki kepentingan berada di lokasi.

Gourmet

Restoran berkelas dengan suasana santap yang nyaman dan dekor artistik. Ditujukan bagi mereka yang menuntut standar masakan, penyajian, dan pelayanan yang tinggi dan bergengsi.

Etnik

Menyajikan masakan daerah tertentu, misalnya Padang, Jawa Timur, Manado, China, dan lain-lain. Dekorasi disesuaikan dengan etnik yang bersangkutan, bahkan seragam karyawannya juga bernuansa etnik.

Buffet

Biasanya bersifat swalayan atau prasmanan. Ciri utamanya adalah satu harga untuk makan sepuasnya. Display makanan sangat penting karena makanan itu 'menjual dirinya sendiri'.

Coffee Shop

Sebenarnya tidak sekedar menjual kopi, melainkan lebih bernuansa 'warung kopi' yakni tempat bersantai bersama teman sambil makan minum.

Snack Bar

Ruangannya lebih kecil dan kasual, cukup untuk melayani orang yang menginginkan makanan kecil.

Drive In dan Drive Thru

Para pembeli bermobil tidak perlu turun dari kendaraan, baik saat memesan maupun saat mengambil pesanan.

Specialty Restaurant

Bisa agak jauh dari pusat keramaian, meskipun tidak boleh sepi dari lalu lalang. Contohnya restoran seafood, steak, pizza, dan lain sebagainya.

Ditulis oleh: Catra Agfa

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Potret Unik Restoran di Bawah Laut Serasa Surga
Halaman:
  • Penulis: Catra Agfa
  • Editor: Nugrahenny Putri Untari

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita