Jitunews.Com
13 Desember 2017 10:35 WIB

Indonesia Kembangkan Budidaya Laut Lepas Pantai Teknologi Tinggi

Salah satu teknologi budidaya laut lepas pantai yang diinisiasi KKP adalah teknologi Karamba Jaring Apung (KJA) super intensif. KJA super intensif ini secara keseluruhan mengadopsi teknologi ala Norwegia.

Teknologi Karamba Jaring Apung (KJA). (Dok. Humas DJPB KKP)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menginisiasi penerapan teknologi budidaya laut lepas pantai (off-shore mariculture). Sepanjang tahun 2017 ini, tercatat KKP telah melakukan pengembangan budidaya lepas pantai di tiga lokasi yakni di Kota Sabang Propinsi Aceh, Kabupaten Pangandaran Propinsi Jawa Barat; dan Kepulauan Karimunjawa Propinsi Jawa Tengah. 

Niat KKP khususnya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang menginisiasi program penerapan teknologi budidaya laut adalah lantaran luas potensi indikatif pengembangan budidaya laut di Indonesia yang mencapai 12 juta hektar. Dari total potensi itu, luas pemanfaatannya hingga saat ini baru tergarap ± 285.527 hektar atau sekitar 2,36% sehingga peluang pemanfaatan ekonomi budidaya laut masih sangat besar dan berpotensi mendongkrak perekonomian nasional.

Salah satu teknologi budidaya laut lepas pantai yang diinisiasi KKP adalah teknologi Karamba Jaring Apung (KJA) super intensif. KJA super intensif ini secara keseluruhan mengadopsi teknologi ala Norwegia. Pemilihan KJA super intensif dilakukan lantaran karakteristik perairan Indonesia yang dinilai sangat cocok untuk pengembangan budidaya laut sistem ini. Diharapkan dengan penggunaan teknologi KJA super intensif bakal mendorong optimalisasi pemanfaatan potensi budidaya laut Indonesia. 



KKP Realisasikan Program Revitalisasi Perairan Umum

Untuk diketahui saja, Norwegia merupakan eksportir produk perikanan nomor 2 terbesar dunia. Industri akuakulturnya bahkan tercatat memberikan kontribusi paling besar. 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan, seluruh teknologi yang digunakan dalam program tersebut telah didesain dengan baik, sehingga memungkinkan pengelolaan secara efisien, terukur dan ramah lingkungan. Ia juga menilai dari sekian banyak teknologi budidaya lepas pantai, Indonesia dan Vietnam merupakan negara di Asia Tenggara yang mengadopsi teknologi ala Norwegia ini.

"Upaya transfer teknologi ini menjadi penting bagi Indonesia sebagai acuan dalam melakukan pengelolaan budidaya laut secara berkelanjutan dengan nilai tambah ekonomi yang lebih besar," ujar Slamet Soebjakto, Rabu (13/12).

Sebagai gambaran, budidaya laut lepas pantai ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern antara lain kapal kerja (working vessel) yang dilengkapi dengan crane untuk membantu proses panen dan pemeliharaan KJA; feeding barge dan feeding system yang memungkinkan pemberian dan kontrol pakan secara otomatis; KJA sebanyak 8 (delapan) lubang per unit dengan volume masing-masing 5.100 m3, dan fasilitas penunjang lainnya.

Melalui pengelolaan sistem produksi yang memadai, produktivitas budidaya diharapkan hingga mencapai 95 ton per lubang per siklus. Dengan demikian, KKP menargetkan melalui pengembangan KJA off-shore di tiga lokasi tersebut akan menghasilkan produksi ikan kakap putih hingga mencapai 2.160 ton per tahun dengan nilai ekonomi mencapai 151,2 milyar per tahun.  

Selain itu, dalam program itu, KKP juga menggandeng BUMN perikanan sebagai penyangga pasar yang nantinya produk hasil panen segar (fresh product) akan diolah menjadi produk fillet dengan orientasi pasar ekspor ke berbagai negara antara lain Uni Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Timur Tengah. 

"Diversifikasi produk ikan kakap diharapkan secara langsung akan menaikan nilai tambah ekonomi. Dalam tataran perdagangan global, Indonesia mengincar sebagai pemasok utama pangsa pasar kakap dunia," imbuhnya.

Di sisi lain, pengembangan KJA-offshore ini diharapkan akan memberikan multiplier effect bagi permberdayaan masyarakat melalui segmentasi usaha pada proses produksi pendederan di tambak maupun KJA milik masyarakat. Dari proses segmentasi ini akan membuka peluang kesempatan usaha bagi setidaknya 1.450 orang petambak dan akan memicu tumbuhnya tambak-tambak produktif.

KKP Tegaskan Kinerja Neraca Perdagangan Ikan Kerapu Positif
Halaman:
  • Penulis: Vicky Anggriawan

Baca Juga

 

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita