29 November 2017 11:45 WIB

Broker Properti Zaman Now Wajib Hadiri The Biggest Real Estate Summit 2017

AREBI menjamin para broker properti akan mendapat banyak pengetahuan dari gelaran tersebut dan akan sangat berguna dalam menjalani profesinya.

Penjaga stan memberikan informasi kepada sejumlah pengunjung saat Festival Properti Indonesia, di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Selasa (14/11). (Jitunews/Latiko Aldilla Dirga)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - The Biggest Real Estate Summit 2017 bertema Harness Change for Change to be Great mulai digelar pada hari ini, Rabu (29/11) di The Hall Senayan City, Jakarta. 

Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) pun mengajak para broker properti di Indonesia, baik yang sudah menjadi anggota atau belum, untuk hadir dalam perhelatan akbar tersebut. AREBI menjamin para broker properti akan mendapat banyak pengetahuan dari gelaran tersebut dan akan sangat berguna dalam menjalani profesinya. 

“Pengetahuan broker properti harus terus ditambah agar bisa bekerja secara profesional. Salah satunya dengan menghadiri acara The Biggest Real Estate Summit 2017 yang digelar AREBI," kata Ketua Umum AREBI, Hartono Sarwono, dalam rilis yang diterima Rumah123. 


6 Cara Untung Investasi Properti di Jakarta, Ayo Jangan Telat Ya!

Menurut Hartono, banyak permasalahan seputar profesi broker properti di Indonesia yang akan dibahas dalam acara ini. Deretan narasumber kompeten pun dihadirkan, baik dari pemerintahan, akademisi, praktisi, maupun asosiasi. 

The Biggest Real Estate Summit 2017 akan menampilkan diskusi dengan pembicara antara lain Dirjen Pajak RI, Ken Dwijugiasteadi; Ketua Umum Ikatan Notaris Indonesia, Yulita Widyadhari; dan Ketua PPATK, Kiagus Ahmad Badarddin. 

“Kehadiran di perlehatan akbar tersebut juga sebagai bentuk kepedulian broker properti terhadap keberlangsungan bisnis properti di Indonesia,” kata Hartono lagi. 

Juga akan digelar Talk Show dengan tema bahasan “Pengembang Asing di Indonesia: Inovator atau Disruptor”. Yang akan menjadi pembicara adalah tiga pengembang, yakni Keppel Land, Swan City, dan Paramount Land. 

Ada pula seminar oleh Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, bertema Change and Disruption. Dalam tulisannya yang berjudul Hidup Lebih Baik yang Belum Tentu Disambut Baik (Begitulah Shifting Terjadi), Rhenald mengatakan, saat ini adalah zaman “shifting”. Di era ini, para pengusaha lama perlu mendisrupsi diri agar siap bertarung dengan cara-cara baru. 

“Dunia ini sedang shifting. Ia menciptakan jutaan kesempatan baru yang sulit ditangkap orang-orang lama, atau orang-orang malas yang sudah tinggal di bawah selimut rasa nyaman masa lalu,” ujar Rhenald. 

Menurut Hartono, para broker properti bisa mengambil masukan dari pemaparan Rhenald Kasali, menjadikannya inspirasi dalam membuat strategi-strategi baru untuk menjalankan pekerjaan sebagai broker properti di tengah perubahan zaman. 

Ketua Panitia The Biggest Real Estate Summit 2017, Paulus Kusumo, menambahkan bahwa ada banyak problem yang dihadapi para pebisnis real estate, broker, dan masyarakat pengguna jasa broker. Apa sajakah? Antara lain Black Selling, Secret Selling, transaksi yang tidak dilaporkan, pencurian transaksi. Hal ini menjadi problem bagi franchisor maupun para pemilik kantor yang disebabkan oleh para broker/Marketing Executive/Marketing Associate yang nakal dan tidak bertanggung jawab. 

Lalu, cara kerja yang tidak profesional, mulai dari pencatatan dan pembuatan kontrak agen pemasaran yang tidak dilakukan ataupun dilakukan tanpa melakukan pengecekan dan analisis yang layak, hingga proses penjualan yang tidak dibantu secara layak. Belum lagi penipuan oleh broker properti yang tidak bertanggung jawab kepada para klien, mulai dari membawa lari uang muka hingga “Mark Up” transaksi tanpa sepengetahuan pemilik properti.

Selain itu juga pengingkaran komitmen/perjanjian kantor real estate agen kepada broker (marketingnya) dan pemotongan komisi sepihak oleh pemilik/klien dengan tidak adil, hingga komisi yang tidak dibayar oleh klien nakal, dan lain lain. 

“Di banyak grup diskusi sering dilontarkan pertanyaan untuk dibahas bagaimana cara penyelesaian yang tepat untuk kasus-kasus tersebut, namun tidak pernah didapatkan solusi yang baik untuk mengatasi semua permasalahan itu," kata Paulus. 

"Hampir semua problem yang terjadi tidak dapat diatasi dan dicegah, disebabkan oleh tidak adanya regulasi yang jelas dan infrastruktur data transaksi. Sekarang lah saatnya kita ubah kondisi ini. Oleh karena itu, mari kita dukung dan hadiri acara The Biggest Real Estate Summit 2017,” tutur Paulus lagi. 

Nah, bagi broker properti yang ingin menghadiri acara perhelatan akbar AREBI, yakni The Biggest Real Estate Summit 2017, bisa membeli tiket Rp300.000 untuk anggota AREBI dan Rp500.000 untuk umum. Tiket bisa didapatkan di Sekretariat DPD atau DPP AREBI dan Master Franchise anggota AREBI.

(Sumber: Rumah123)

Investasi Properti di Kota Kecil? Potensi Pertumbuhannya Besar Lho!
Halaman:
  • Penulis: Riana

Penulis Suara Kita