Jitunews.Com
4 Oktober 2017 16:06 WIB

YLKI: Sinyalemen Negatif Pada Apartemen Meikarta

Meikarta menjadi kondang mendadak tak sampai setengah tahun, karena mengobral gimmick impian bermukim asyik dan ber-capital gain tinggi dalam bisnis. Tapi ada sisi negatifnya.

meikarta ()

BEKASI, JITUNEWS.COM - Promosi, iklan dan marketing Meikarta yang begitu masif, terstruktur dan sistematis, bisa jadi membius masyarakat konsumen untuk bertransaksi membeli properti di Meikarta.

Antusiasme masyarakat terhadap Meikarta dianggap pengembangnya sudah terjadi. Sehingga, Meikarta sampai beriklan besar-besaran.

Lalu YLKI pun bereaksi, dengan memprotes sebuah redaksi media, karena lebih dari 30 persen isinya adalah iklan full colour Meikarta lima halaman penuh. Pasalnya Meikarta memang menarik, dengan harga unit apartemen nilai yang terjangkau masyarakat yaitu Rp 127 jutaan. Kabar dari divisi marketingnya, sudah 20.000-an konsumen melakukan transaksi pembelian/pemesanan.



Hafisz Tohir: Meikarta Pihak yang Diuntungkan dalam Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung

Kendati Wagub Jawa Barat, Dedi Mizwar, telah meminta pengembang apartemen Meikarta untuk menghentikan penjualan dan segala aktivitas pembangunan (karena belum lengkap izinnya), namun promosi Meikarta tetap berjalan dan menjual produk propertinya.

Sementara, pihak Lippo Group (pengembang, red) menilai apa yang dilakukannya adalah lumrah dilakukan pengembang lain dengan istilah pre project selling. Namun. praktik itu berisiko bagi konsumen yang berada dalam posisi yang sangat rentan dirugikan, karena tidak memiliki jaminan atas kepastian pembangunan.

Padahal pemasaran yang dilakukan tersebut, diduga kuat melanggar ketentuan Pasal 42 UU No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun, yang mewajibkan pengembang untuk memiliki jaminan atas kepastian peruntukan ruang; kepastian hak atas tanah; kepastian status penguasaan gedung; perizinan; dan jaminan pembangunan sebelum melakukan pemasaran.

Menurut data YLKI, sistem pre project selling dan pemasaran juga dilakukan oleh pengembang lain.

Terbukti sejak 2014-2016, YLKI menerima sekurangnya 440 pengaduan terkait perumahan, yang mayoritas masalah tersebut, akibat tidak adanya konsistensi antara penawaran dan janji promosi.

Pada tahun 2015, sekitar 40 persen pengaduan perumahan terjadi sebagai akibat adanya pre project selling, yakni adanya informasi yang tidak jelas, benar dan jujur; pembangunan bermasalah; realisasi fasum/fasos; unit berubah dari yang ditawarkan.

Praktik semacam itulah yang juga dialami komedian tunggal Mukhadly alias Acho. Janji dan promosi pengembang tidak sesuai dengan realisasi di lapangan.

Maka dari itu, untuk menghindari terulangnya kasus Acho dengan skala yang lebih luas, berikut ini catatan YLKI terkait pre project selling, baik yang dilakukan Meikarta dan atau pengembang lain. Oleh karena itu, YLKI menyarankan kepada masyarakat agar waspada pada beberapa hal di bawah ini :

1. Mengimbau masyarakat menunda pemesanan dan atau membeli unit apartemen di Kota Meikarta sampai jelas status perizinan dan legalitasnya. Jangan tergiur dengan iming-iming dan janji fasum/fasos yang ditawarkan oleh pengembang. Sebelum menandatangani dokumen pemesanan, bacalah dengan teliti, dan saat pembayaran booking fee harus ada dokumen resmi, jangan dengan kwitansi sementara;

2. YLKI mendesak manajemen Meikarta untuk menghentikan segala bentuk promosi, iklan, dan penawaran lain atas produk Apartemen Meikarta sampai seluruh perizinan dan aspek legal telah dipenuhinya.

Meikarta jangan berdalih, bahwa pihaknya sudah mengantongi IMB, padahal yang terjadi sebenarnya adalah baru pada tahap proses permohonan pengajuan IMB saja.

3. Mendorong pemerintah menindak tegas, jika perlu menjatuhkan sanksi atas segala bentuk pelanggaran perizinan dan pemanfaatan celah hukum yang dilakukan oleh pengembang dan terbukti merugikan konsumen.

Pembangunan Kota Baru Meikarta Menui Polemik, Ombudsman Angkat Bicara
Halaman:
  • Penulis: Riana,Yusran Edo Fauzi

Baca Juga

 

Rekomendasi

 

Berita Terkait

 

Penulis Suara Kita