13 September 2017 10:43 WIB

Impor Gas dari Singapura Bisa Jadi Sasaran Mafia Migas untuk Berburu Rente

Jika PLN dan industri ramai-ramai impor, maka dapat mematikan industri gas dalam negeri. Ilustrasi PLN. (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - PT PLN (Persero) diingatkan soal rencana impor gas alam cair dari Singapura, berpotensi masuknya mafia migas.

Tahun 2019, Indonesia Mulai Impor Gas Bumi

"Impor gas akan menjadi sasaran mafia migas untuk berburu rente seperti yang terjadi pada impor BBM," kata Pengamat UGM, Fahmy Radhi, dikutip dari Antara, Selasa (12/97).

Lebih lanjut, Fahmi pun mengingatkan PLN untuk memaksimalkan pemanfaatan gas dari dalam negeri dahulu, sebelum mengambil opsi impor.


Gas Bumi Banyak Diekspor ke Asing, Indonesia Mulai Impor Gas

"Mestinya pemerintah mengatasi akar masalah mahalnya harga gas di dalam negeri akibat adanya trader nonpipa dan juga keterbatasan pipa untuk meningkatkan distribusi gas dari hulu ke konsumen akhir yakni industri dan PLN, ketimbang mengambil opsi impor," tutur Fahmy.

Fahmy juga mengkhawatirkan, jika PLN dan industri ramai-ramai impor, maka dapat mematikan industri gas dalam negeri.

"Dengan terpuruknya industri gas dalam negeri, maka akan memicu ketergantungan impor gas, yang berpotensi menguras devisa negara," paparnya.

Di sisi lain, ia menilai kebutuhan gas pembangkit listrik PLN memang semakin meningkat di masa depan, sehingga BUMN listrik tersebut akan menjadi tergantung pada ketersediaan pasokan gas.

Oleh karena itu, memiliki sendiri fasilitas penampungan gas baik terapung maupun darat bisa menjadi opsi bagi PLN.

"Dengan memiliki fasilitas sendiri tersebut, maka PLN dapat menampung persediaan gas yang dibutuhkan, sebagai savety stock atau persediaan gas yang harus dipertahankan dalam jumlah tertentu," ujarnya.

Sementara itu, diwartakan sebelumnya, PLN bersama dua perusahaan asal Singapur, yakni Pavilion dan Keppel menandatangani pokok-pokok perjanjian (HOA) kerja sama studi logistik dan penyiapan fasilitas gas alam cair (LNG) skala kecil di Tanjung Pinang dan Natuna, Kepulauan Riau.

Penandatanganan HOA dilakukan di Singapura, pekan lalu saat pertemuan bilateral pemimpin negara dalam rangka memperingati kerja sama Indonesia-Singapura ke-50 tahun.

Dikutip dari detikfinance, HoA ini berisi 3 kesepakatan. Pertama, penyusunan studi kelayakan yang lebih mendalam terkait distribusi LNG untuk wilayah Tanjung Pinang dan Natuna. Kedua, pembuatan konsep kerangka kerja untuk mendistribusikan LNG milik PLN dari kontrak eksisting PLN dengan sumber domestik Indonesia ke pembangkit listrik skala kecil di Tanjung Pinang dan Natuna. Dan ketiga, pengembangan infrastruktur LNG skala kecil untuk wilayah Tanjung Pinang dan Natuna yang letaknya berdekatan dengan Singapura.

Menurut Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PLN, Amir Rosidin, dalam HoA, sama sekali tidak ada kontrak jual-beli LNG, penjajakan pun tidak ada. Hanya kesepakatan untuk bersama-sama melakukan kajian penyiapan infrastruktur mini LNG.

"Jadi HoA ini bukan kontrak transaksi jual-beli LNG, melainkan HoA untuk studi penyiapan infrastruktur mini LNG dengan tujuan mendapatkan solusi logistik yang paling andal dan efisien," Amir dalam diskusi di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Senin (11/9).

Ia menegaskan, HoA ini baru berisi kesepakatan pembuatan kajian bersama-sama. Kerja sama akan berlanjut ke penyiapan infrastruktur gas apabila hasil kajian menunjukkan adanya peluang efisiensi.

 

Tak Temukan Cadangan Baru, Indonesia Dipastikan Impor Gas pada Tahun 2019

Penulis : Riana

Dapatkan update berita Jitunews.com via Email, klik di sini!


Komentar
Baca Juga
Berita Terkait

Kegiatan Diklat Kembangkan SDM ESDM

28 Agustus 2017 20:05

Indonesia Siap Ekspor LNG ke Bangladesh

15 September 2017 15:49
Rekomendasi