28 Agustus 2017 13:53 WIB

Indonesia Bisa Deteksi Dini Penyakit Koi Hervest Virus (KHV)

Pasar udang dunia mensyaratkan adanya bukti legal hasil uji bebas penyakit dari laboratorium acuan yang ditunjuk oleh OIE/Badan Kesehatan Hewan Dunia. Penyakit herpes pada ikan Koi. (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, mengungkapkan bahwa The World Organization for Animal Health/Badan Kesehatan Hewan Dunia atau yang populer disingkat OIE memberikan dukungan kepada Indonesia untuk pengembangan laboratorium kesehatan ikan berskala Internasional -- agar meningkatkan kemampuan deteksi penyakit ikan.

KKP Tebar Perdana Benih Ikan Bagi Eks Penangkap Benih Lobster

Ia mengungkapkan, soal penyakit dalam bisnis akuakultur telah mengakibatkan trade barrier dalam siklus perdagangan perikanan global saat ini. Oleh karenanya, setiap negara mulai memperketat persyaratan teknis terhadap lalulintas seluruh produk perikanan budidaya. Upaya tersebut antara lain melalui penerapan risk analysis importasi secara ketat.

Slamet mencontohkan, fenomena merebaknya penyakit KHV pada Ikan Mas dan Ikan Koi di berbagai negara telah menurunkan transaksi bisnis perdagangan Koi di dunia maupun Indonesia.


Pastikan Pasokan Benih, KKP Kembangan Teknologi Corong

Saat ini perdagangan Ikan Koi di dunia memerlukan persyaratan bebas penyakit KHV yang dibuktikan dengan sertifikat bebas KHV dari Laboratorium Acuan OIE untuk penyakit ikan. Namun persyaratannya diperoleh secara terbatas, karena baru ada dua laboratorium acuan OIE untuk penyakit KHV yang diakui dunia, yakni di Jepang dan Inggris.

Demikian halnya dengan komoditas udang. Pasar udang dunia mensyaratkan adanya bukti legal hasil uji bebas penyakit dari laboratorium acuan yang ditunjuk oleh OIE. Padahal menurut Slamet, saat ini laboratorium acuan OIE untuk penyakit udang hanya tersedia di luar negeri seperti Amerika Serikat, dan ini cukup memberatkan pelaku usaha Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia mulai menyiapkan laboratorium untuk menjadi acuan dunia, yaitu Laboratorium Kesehatan Ikan pada Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, yang menjadi laboratorium acuan OIE untuk deteksi penyakit Koi Hervest Virus (KHV). Selain itu juga Laboratorium Kesehatan Ikan pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur, untuk rujukan penyakit udang.

OIE memfasilitasi kedua laboratorium tersebut melalui Twinning Program. Untuk uji KHV, di maa BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat, bekerjasama dengan National Research Institute of Aquaculture Fisheries Research Agency (MIE-Jepang) sebagai parent laboratory. Sedangkan untuk penyakit udang BPBAP Situbondo, Jawa Timur, bekerjasama dengan Laboratorium akuakultur Universitas Arizona, Amerika Serikat sebagai Parent Laboratory.

"Saya optimis ke-dua laboratorium yang kita rekomendasikan akan lulus dalam Twinning Program ini, sehingga akan menjadi laboratorium pertama di Indonesia yang diakui Badan Kesehatan Hewan Dunia dan berskala internasional, bahkan menjadi yang pertama di ASEAN untuk acuan penyakit KHV dan udang. Nantinya hasil uji dari Laboratorium ini akan menjadi acuan bagi keberterimaan produk perikanan budidaya Indonesia, karena hasilnya diakui oleh Badan Perdagangan Dunia/World Trade Organization (WTO)," imbuh Slamet.

Slamet juga menyampaikan beberapa program kegiatan yang telah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk penanganan KHV, yaitu melakukan perekayasaan vaksin KHV, produksi vaksin KHV, sosialisasi penanganan KHV serta penerapan biosecurity pada tahapan perikanan budidaya.

Dalam kesempatan yang sama, Hirofumi Kugita, Representatif OIE untuk Asia-Pasifik yang turut hadir dalam workshop 'The OIE Twinning Laboratory Project' di Bali, mengatakan bahwa OIE sangat mendukung munculnya laboratorium kesehatan ikan berskala internasional di Indonesia.

Menurutnya, twinning program ini sudah sangat tepat dan diharapkan akan berjalan dengan semestinya, mengingat Indonesia saat ini sangat diperhitungkan dalam perdagangan perikanan di dunia.

"Indonesia sudah sepatutnya memiliki laboratorium rujukan yang diakui WTO, dan saya kira semua negara di sangat berkepentingan dengan Indonesia, utamanya peran Indonesia ke depan sebagai pemasok kebutuhan ikan bagi masyarakat global. Untuk itu penting bagaimana menjamin sustainability tetap terjaga melalui deteksi dini," ungkap Hirofumi di sela-sela menghadiri workshop.

Sementara itu, tahun 2016 volume produksi Ikan hias Koi nasional tercatat sebanyak 404.329.000 ekor. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring upaya pemerintah yang terus mendorong penguatan daya saing usaha budidaya ikan hias nasional.

Indonesia Siapkan Dua Lab Kesehatan Ikan untuk Acuan Dunia

Penulis : Riana,Yusran Edo Fauzi

Dapatkan update berita Jitunews.com via Email, klik di sini!


Komentar
Baca Juga
Berita Terkait
Rekomendasi